PVMBG: Aktivitas Gunung Slamet belum meningkat, namun tetap waspada

1 week ago 6
Masyarakat diharapkan tetap tenang, namun waspada, serta mematuhi rekomendasi dengan menjauhi radius dua kilometer dari pusat aktivitas

Purwokerto (ANTARA) - Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Slamet memastikan aktivitas Gunung Slamet, Jawa Tengah, hingga saat ini belum mengalami peningkatan lanjutan dan masih berada pada Level II atau Waspada.

Saat dihubungi dari Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Selasa, Kepala Pos PGA Slamet, Muhammad Rusdi mengatakan aktivitas kegempaan Gunung Slamet masih didominasi gempa-gempa berperiodik sebagaimana hasil pemantauan harian dan laporan khusus yang telah dirilis sebelumnya.

"Untuk saat ini tingkat aktivitas Gunung Slamet masih di Level II Waspada dan masih didominasi gempa berperiodik," katanya.

Berdasarkan pengamatan Pos PGA Slamet di Desa Gambuhan, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang, pada Senin (26/1) menjelang pukul 15.00 WIB terkonfirmasi terjadi satu kali gempa vulkanik dalam.

Namun, lanjutnya, amplitudo gempa tersebut masih tergolong kecil dan belum menunjukkan adanya peningkatan signifikan aktivitas vulkanik pada gunung yang berada di wilayah Kabupaten Banyumas, Purbalingga, Pemalang, Tegal, dan Brebes itu.

Menurut dia, kemunculan satu kali gempa vulkanik dalam tersebut masih sejalan dengan pola aktivitas Gunung Slamet dalam beberapa waktu terakhir dan belum mengubah status aktivitas gunung api tersebut.

Ia mengatakan PVMBG pada 11 Januari 2026 telah merilis Laporan Khusus Peningkatan Aktivitas Gunung Slamet yang mencatat aktivitas seismik Gunung Slamet bersifat fluktuatif, didominasi gempa frekuensi rendah dan tremor menerus, tanpa disertai erupsi maupun perubahan visual yang signifikan.

Dalam laporan tersebut, lanjutnya,PVMBG menyebutkan pemantauan deformasi melalui pengukuran Electronic Distance Measurement (EDM) dan tiltmeter hingga 11 Januari 2026 masih menunjukkan kondisi relatif stabil, meskipun terdapat indikasi peningkatan tekanan di bawah tubuh gunung api yang memicu gempa dangkal.

Terkait dengan tingginya curah hujan di kawasan Gunung Slamet dalam beberapa hari terakhir, dia menegaskan hingga kini belum dapat dipastikan adanya keterkaitan langsung antara kondisi cuaca dengan kemunculan gempa vulkanik dalam.

"Selama ini kami belum bisa menyatukan kondisi curah hujan dengan gempa. Apakah ada efek atau tidak, kami juga belum bisa memastikan. Biasanya saat curah hujan tinggi, asap yang teramati memang terlihat lebih tebal," katanya.

Dia mengatakan PVMBG tetap merekomendasikan agar masyarakat, pendaki, dan pengunjung, tidak beraktivitas dalam radius dua kilometer dari kawah puncak Gunung Slamet.

"Masyarakat diharapkan tetap tenang, namun waspada, serta mematuhi rekomendasi dengan menjauhi radius dua kilometer dari pusat aktivitas," katanya.

Rusdi mengatakan PVMBG dan PGA Slamet terus melakukan pemantauan intensif dan akan segera meninjau kembali tingkat aktivitas Gunung Slamet apabila terjadi perubahan visual maupun kegempaan yang signifikan.

PVMBG meningkatkan status Gunung Slamet dari Level I atau Normal menjadi Level II atau Waspada sejak tanggal 19 Oktober 2023 karena adanya peningkatan aktivitas vulkanik pada gunung tertinggi di Jawa Tengah itu.

Pewarta: Sumarwoto
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |