Jakarta (ANTARA) - Ada sesuatu yang berbeda di Jakarta saat Indonesia menerima kedatangan Aleksandr Lukashenko pada Kamis (2/7). Tak seperti kunjungan pemimpin negara lain sebelumnya, penyambutan Presiden Belarus itu terasa lebih dari sekadar seremoni diplomatik.
Di sepanjang Jalan Medan Merdeka Utara, ratusan siswa mengibarkan bendera kedua negara ketika mobil Lukashenko melintas menuju Istana Merdeka dengan kawalan 17 motoris dan 80 anggota pasukan berkuda dari Batalyon Kavaleri Paspampres. Memasuki kompleks istana, iring-iringan tersebut disambut Tarian Enggang dari Kalimantan Timur.
Kemeriahan penyambutan itu bukan sekadar penghormatan protokoler. Di baliknya tersimpan proses diplomasi yang berawal dari pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan Lukashenko di kediaman pribadinya di Ozyorny, di luar Kota Minsk, pada Juli tahun lalu.
Pertemuan tersebut berlangsung hampir tiga jam. Prabowo menjadi kepala negara kedua yang menyambangi kediaman itu setelah direnovasi, menyusul Presiden Rusia Vladimir Putin.
Kunjungan balasan Lukashenko ke Indonesia merupakan lawatan keduanya setelah kunjungan pertama 13 tahun silam. Kali ini, ia mendapat kehormatan menginap di Istana Negara, sebuah perlakuan yang belum pernah diberikan kepada tamu negara lain.
Substansi kunjungan Lukashenko adalah peluncuran Peta Jalan Penguatan Kerja Sama Indonesia-Belarus 2026-2030 yang meliputi pertanian modern, industri, perdagangan, ketahanan pangan, ilmu pengetahuan dan teknologi, serta pengembangan sumber daya manusia.
Kedua negara juga menyepakati tujuh kerja sama prioritas melalui nota kesepahaman (MoU) di sektor industri, kebudayaan, jasa keuangan antara Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Nasional Belarus, serta kesehatan.
Kerja sama lainnya mencakup bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, pertukaran informasi intelijen keuangan terkait pencucian uang dan pendanaan terorisme antara Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) dan otoritas Belarus, serta akreditasi nasional.
Luasnya cakupan kerja sama itu menandai berkembangnya hubungan Indonesia-Belarus dari sekadar perdagangan menuju kemitraan strategis yang lebih luas.
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































