INDEF sarankan strategi pendorong ekspor dari sektor manufaktur

4 hours ago 3

Jakarta (ANTARA) - Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef M Rizal Taufikurahman mengatakan pemerintah perlu melakukan percepatan ekspor sektor, yang mempunyai nilai tambah, terutama produk manufaktur sebagai strategi untuk mendorong pertumbuhan ekspor nasional.

"Untuk sisa tahun ini, strategi mendorong ekspor tidak cukup hanya dengan promosi dagang. Pemerintah perlu mempercepat ekspor sektor yang punya nilai tambah tinggi, terutama produk manufaktur, makanan olahan, kimia, farmasi, komponen otomotif, tekstil bernilai tambah, serta produk hilirisasi yang tidak berhenti di bahan setengah jadi," kata Rizal kepada ANTARA di Jakarta, Jumat.

Ia berpendapat defisit neraca perdagangan pada Mei 2026 yang terjadi untuk pertama kalinya ini menjadi sinyal bahwa ekspor nasional melemah di tengah kebutuhan impor, terutama migas dan bahan baku yang meningkat cukup agresif di dalam negeri.

Ia juga mengatakan defisit ini menunjukkan kerentanan perdagangan Indonesia karena ketergantungan terhadap impor migas yang masih besar sehingga neraca perdagangan langsung tertekan ketika harga energi dan volume impor naik.

Selain itu, ia melihat ekspor dari Indonesia masih terlalu bertumpu pada komoditas primer dan hilirisasi sumber daya alam, sehingga berpengaruh oleh pelemahan harga komoditas dunia, perlambatan permintaan global dan tekanan dari negara mitra dagang utama.

Di sektor ini, penguatan hilirisasi pengolahan bahan mentah menjadi barang setengah jadi atau barang jadi sebelum ekspor seperti produk berbasis logam, kelapa sawit dan hasil pertanian dapat mendatangkan devisa yang lebih besar.

Ia pun menyarankan Indonesia untuk mendorong ekspor dari sisi volume dan juga mempertimbangkan diversifikasi produk serta perluasan pasar nontradisional.

"Ekspor harus didorong dari sisi volume, diversifikasi produk, dan perluasan pasar nontradisional seperti India, Timur Tengah, Afrika, dan Amerika Latin," sarannya.

Dalam jangka pendek, Rizal juga menyarankan pemerintah untuk menyederhanakan birokrasi yang dapat memperkuat pembiayaan ekspor, mempercepat restitusi pajak, menurunkan hambatan logistik pelabuhan, memperbaiki kepastian pasokan bahan baku industri, dan menjaga stabilitas nilai tukar agar eksportir tidak menghadapi risiko biaya yang terlalu tinggi.

Di saat yang sama, impor migas perlu ditekan melalui efisiensi energi, substitusi energi domestik, dan pengendalian impor konsumtif yang tidak produktif.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan pada Mei 2026 neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit sebesar 1,61 miliar dolar AS, melonjak 59 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Lonjakan impor yang didorong oleh kenaikan harga minyak dan gas dunia menjadi penyebab utama celah defisit ini terjadi.

Baca juga: Purbaya nilai defisit neraca dagang RI dipicu lonjakan impor migas

Baca juga: Nilai ekspor perdagangan RI Januari-Mei capai 115,36 miliar dolar AS

Baca juga: Kemenperin tekankan pelemahan PMI karena gangguan pasokan global

Pewarta: Fitra Ashari
Editor: Kelik Dewanto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |