Penyintas bencana di desa terisolir bangun hunian sementara mandiri

7 hours ago 2

Aceh Timur, Aceh (ANTARA) - Sejumlah warga penyintas bencana di Dusun Ranto Panyang Rubek Kabupaten Aceh Timur, Aceh membangun hunian sementara secara mandiri lantaran berada di lokasi yang terisolasi.

“Sudah dua hari kami bekerja (membuat hunian sementara). Kalau tidak ada halangan, hari ini sudah siap,” ujar Abu Syam, warga setempat ditemui ketika membangun hunian sementara secara mandiri di Dusun Ranto Panyang Rubek di Aceh Timur, Sabtu.

Bahan-bahan yang digunakan oleh Abu Syam untuk membangun hunian sementara, yakni rangka tenda pengungsian dari BNPB serta potongan-potongan kayu dari kediamannya yang bisa diselamatkan dari bencana.

Rangka tenda dari BNPB digunakan Abu Syam sebab lokasi awal daripada tenda BNPB terlalu dekat dengan tepi sungai.

Ia menceritakan rumahnya terseret banjir bandang yang menerjang Aceh pada November 2025. Meski tidak "hilang", rumahnya berada dalam kategori rusak berat dan telah terseret banjir.

“Ini (kayunya) punya kami sendiri. Punya rumah yang hanyut kemarin, itulah yang kami kumpulkan (kayunya),” ujarnya.

Baca juga: Mahasiswa STIK salurkan bantuan untuk korban banjir di Aceh Barat

Ia mengaku tidak betah tinggal di tenda setelah tiga bulan bersama dua keluarga lainnya berada di tenda itu, merasakan sesak dan kurang nyaman.

Berhubung ia belum mendapatkan kepastian ihwal hunian sementara (huntara) dari pemerintah, kemudian memutuskan membangun hunian sendiri.

“Sebelumnya duduk-duduk merenung, (bertanya) kapan berakhirnya ini? Kemudian, daripada merepet-merepet (ngomel-ngomel) tinggal di tenda pada bulan puasa, mana ada pahalanya? Jadi ambil keputusan untuk buat ini (hunian sementara),” katanya.

Abu Syam bukanlah satu-satunya yang membuat hunian sementara secara mandiri. Warga lainnya juga melakukan hal serupa, dan beberapa warga memutuskan untuk membangun hunian di kebun sawit yang mereka miliki.

Alasan mereka membangun hunian sementara di kebun sawit agar jauh dari bibir sungai yang meluap pada November 2025.

Dusun Ranto Panyang Rubek salah satu dusun yang habis diterjang banjir bandang melanda Aceh pada November 2025. Dusun ini salah satu "‘dusun yang hilang" dengan lokasi yang terisolasi.

Untuk mengakses Dusun Ranto Panyang Rubek dari jalan utama, seseorang harus menembus perkebunan sawit dan jalan yang masih berselimut lumpur dengan durasi perjalanan kurang lebih dua jam.

Jalan berselimut lumpur yang dilalui pun bukanlah jalan datar, melainkan dipenuhi oleh tanjakan terjal dan turunan berkelok.

Kondisi jalan yang basah, terutama setelah diguyur hujan, rawan membuat kendaraan tergelincir. Untuk mengakses Dusun Ranto Panyang Rubek dibutuhkan kendaraan dengan spesifikasi tertentu, terlebih untuk mendukung perjalanan di luar jalur utama atau off-road.

Perjalanan secara ekstrem yang harus ditempuh menyebabkan kawasan tersebut terisolasi dari bantuan-bantuan yang dibutuhkan pasca-bencana.

Sebelumnya, Mendagri Tito Karnavian menyampaikan terdapat 29 desa yang hilang karena tersapu longsor atau banjir. Dari jumlah tersebut, 21 desa berada di Aceh, tersebar di Aceh Tamiang, Nagan Raya, Aceh Tengah, dan Gayo Lues.

Hilangnya desa-desa tersebut menjadi persoalan serius karena menyangkut relokasi penduduk serta penataan ulang administrasi pemerintahan desa, terkait dengan pembangunan kembali ke lokasi baru atau dihapus dari sistem administrasi wilayah.

Secara keseluruhan, bencana di tiga provinsi tersebut menyebabkan 1.205 orang meninggal dunia dan 139 orang masih dinyatakan hilang. Wilayah terdampak mencapai 52 kabupaten/kota, 491 kecamatan, dan 4.511 desa.

Baca juga: Relawan salurkan seragam ke siswa terdampak banjir di daerah terisolir

Baca juga: Pembukaan akses jalan di Bener Meriah kini capai 60-70 persen

Pewarta: Putu Indah Savitri
Editor: M. Hari Atmoko
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |