Penyintas bencana banjir Agam jaga geliat ekonomi dari huntara

4 hours ago 3
Dapat pesanan 10 kodi baju pramuka. Ongkos menjahit Rp90 se kodi, bahan, pemotongan dari bos, tinggal menyatukan saja

Palembayan, Agam (ANTARA) - Penyintas bencana hidrometeorologi di Kabupaten Agam, Sumatera Barat, berupaya menjaga geliat ekonomi tetap berjalan meski tinggal di hunian sementara (huntara) Kayu Pasak, Nagari Salareh Aia, Kecamatan Palembayan.

Di tengah keterbatasan, sejumlah penyintas pada Rabu, tetap menjalankan aktivitas ekonomi yang sebelumnya telah mereka tekuni. Ada warga yang menerima pesanan katering sederhana, sementara lainnya melanjutkan pekerjaan menjahit di dalam huntara.

Salah seorang penyintas, Fina (29), yang telah menempati huntara, mengaku masih menerima pesanan makanan untuk acara buka bersama di huntara dan pesanan pribadi yang berasal dari sekitar lingkungan.

“Untuk buka bersama yang di huntara, sudah dua kali. Tapi kalau untuk warga di luar, sudah banyak dapat orderan. Dari karyawan MBG untuk buka bersama ada, terus dari warga-warga setempat, pesan manual yang jemput ke sini ada juga,” kata Fina yang dulunya membuka usaha di lokasi bencana hidrometeorologi.

Mematok harga Rp17 ribu-Rp20 ribu per satu makanan, Fina menerima pesanan untuk buka bersama hari ini sebanyak 350 paket pecel ayam. Namun, karena keterbatasan ruang gerak dan tenaga kerja, ia hanya menyanggupi 200 paket pesanan saja.

Ia juga menuturkan tidak mengalami kendala dalam memperoleh bahan baku karena aktivitas di pasar setempat sudah bergerak. Meski demikian, untuk kebutuhan kemasan, ia harus menempuh perjalanan sekitar 45 menit ke Lubuk Basung.

Selain usaha katering, aktivitas menjahit juga mulai kembali berjalan. Salah seorang warga tampak memanfaatkan mesin jahit yang berhasil diselamatkan saat bencana untuk menerima pesanan perbaikan maupun pembuatan pakaian.

Jurspartima, salah satu penyintas, mengatakan dirinya baru memulai aktivitas menjahit sekitar dua pekan lalu setelah mesin jahitnya selesai diperbaiki akibat terkena lumpur.

Meski bekerja di ruang terbatas, ia berkejar dengan waktu agar mampu menyelesaikan pesanan baju seragam sekolah pada Rabu malam agar jasa jahit bisa diterima sebelum Lebaran.

“Dapat pesanan 10 kodi baju pramuka. Ongkos menjahit Rp90 se kodi, bahan, pemotongan dari bos, tinggal menyatukan saja,” ucap dia.

Jurspartima mengaku bahwa dia sebelumnya juga ditawari untuk menjahit baju gamis, hanya saja karena mesin jahitnya baru selesai diperbaiki, ia menolak tawaran tersebut.

“Gamis tidak diambil lagi karena waktunya tidak terkejar, gamis itu harus selesai tiga hari. Kalau baju pramuka bisa 10 hari,” tambahnya.

Saat ini, sebanyak 117 kepala keluarga masih menghuni huntara Kayu Pasak. Meski beberapa warga sering bolak-balik ke rumahnya yang bisa ditempati sebagian, tetapi aktivitas di huntara Kayu Pasak tetap ramai baik di siang dan malam hari.

Baca juga: Penyintas di huntara Agam Sumbar olah bantuan sembako jadi kue Lebaran

Baca juga: Huni huntara tiga pekan, warga di Malalak Sumbar mulai beradaptasi

Baca juga: Baznas Agam salurkan sembako dan uang tunai ke penyintas di huntara

Pewarta: Kuntum Khaira Riswan
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |