Penggunaan energi hijau ubah wajah Pulau Saugi di Pangkep

3 months ago 17

Pangkep (ANTARA) - Matahari masih berwarna keemasan saat sepertiga warga Kabupaten Pangkajene Kepulauan atau Pangkep merapat di Dermaga Maccini Baji, menunggu kapal kayu yang dikenal dengan sebutan "jolloro" maupun kapal feri dengan kapasitas 112 penumpang dan 15 kendaraan roda dua.

Sejumlah orang dewasa di Pankep yang mengenakan seragam pegawai pemerintah, juga wanita paruh baya dengan sejumlah barang belanjaan dari pasar terlihat menepi di bibir dermaga, saat perahu yang akan mengangkutnya merapat satu persatu.

Tidak lama berselang, perahu kayu yang mengangkut belasan, hingga puluhan penumpang, sesuai kapasitasnya, bergerak menuju pulau tujuan masing-masing di wilayah Pangkep.

Salah satu tujuan itu adalah Pulau Saugi, yang merupakan pulau terkecil di antara sekitar 117 pulau di wilayah Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan.

Luas pulau yang dihuni sekitar 140 kepala keluarga atau 400 jiwa itu adalah 38.173 meter persegi. Pulau mungil itu terletak di gugusan Kepulauan Spermonde dan menjadi bagian dari kawasan konservasi perairan daerah Kabupaten Pangkep.

Pulau yang terletak di Desa Mattiro Baji, Kecamatan Liukang Tupabiring Utara, Kabupaten Pangkep ini tampak berbeda jauh dengan kondisi sebelum ada sentuhan penerangan berbasis tenaga surya.

Sebelumnya, kehidupan warga Pulau Saugi, Pangkep, yang menggantungkan hidup sebagian besar dari hasil melaut, seperti pulau lainnya, penghasilannya hanya tergantung dari kondisi hasil tangkapan yang sangat dipengaruhi dengan kondisi cuaca.

Tak heran jika warga Pulau Saugi, Pangkep, seringkali dihadapkan dengan tantangan besar dalam memenuhi kebutuhan dasar mereka, mulai dari pangan, pendidikan, hingga penerangan di malam hari.

Warga Pulau Saugi, Pangkep, Muh Yusman mengungkapkan sebelum adanya bantuan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dari pemerintah, warga hanya mengandalkan lampu minyak yang jauh dari cukup untuk penerangan. Padahal untuk memperbaiki jaring atau pukat dan untuk kebutuhan anak-anak belajar pada malam hari sangat membutuhkan penerangan yang baik.

Keterbatasan infrastruktur kelistrikan ini membuat kehidupan sehari-hari warga di Pangkep itu menjadi sulit, terutama di musim ombak, ketika nelayan kesulitan menangkap ikan, karena tidak memiliki pekerjaan sambilan.

Ketika pemerintah pusat, melalui Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM), saat itu dipimpin Menteri Ignasius Jonan, bantuan listrik melalui Program Pembangkit Listrik Tenaga Energi Baru Terbarukan (PLT EBT), warga pulau di wilayah Pangkep yang hanya memiliki dua unit sekolah, satu unit sekolah dasar (SD) dan satu sekolah madrasah ibtidaiyah (MI), itu, akhirnya mulai menikmati listrik pada 2018.

Sarana PLTS berkapasitas 50 KwP yang dapat menerangi rumah warga dari pukul 06.00 petang hingga pukul 6.00 pagi menjadi penyemangat baru bagi warga Saugi, Pangkep. Pasalnya, dengan penerangan tersebut anak-anak dapat belajar dan mengerjakan tugas, orang tua dapat memperbaiki jaring atau pukat yang rusak di malam hari.

Manfaat lainnya, termasuk mendapat informasi dan hiburan dari televisi mereka yang selama ini sangat terbatas untuk dinyalakan, karena sebelumnya hanya mengandalkan listrik tenaga diesel, dengan pemakaian hanya 4 jam semalam, dari pukul 06.00 petang hingga 10.00 malam.

Dengan layanan itu, warga Pulau Saugi, Pangkep, harus membayar iuran per bulan sebesar Rp120 ribu per KK. Sementara dengan PLTS hanya dikenakan biaya perawatan Rp20 ribu per KK, namun bisa menikmati listrik pada malam hari hingga dini hari selama 12 jam.

Keberadaan listrik yang ramah lingkungan ini membawa dampak besar ,terutama anak-anak di Pulau Saugi, Pangkep. Pasalnya, anak-anak yang sebelumnya terpaksa ikut melaut membantu orang tua mereka, kini bisa lebih fokus melanjutkan pendidikan karena ditunjang dengan kenyamanan untuk mengulang pelajaran pada malam hari ataupun bersekolah secara daring, ketika masa pandemi COVID-19 Tahun 2020 - 2022.

Ketua Badan Perwakilan Desa Mattirobaji Muh Anas mengatakan semangat anak-anak melanjutkan pendidikan meningkat signifikan ketika PLT EBT masuk ke Pulau Saugi, Pangkep.

"Dulu banyak anak usia sekolah yang memilih ikut melaut dengan orang tuanya, tapi sekarang mereka lebih bersemangat bersekolah dulu," ujarnya.

Tidak hanya itu, perubahan sosial juga terjadi di kalangan ibu-ibu nelayan. Kalau sebelumnya aktivitas mereka hanya menjemur ikan untuk produksi ikan asin sebagai mata pencaharian tambahan, kini dengan adanya listrik yang ramah lingkungan itu dapat membantu mengembangkan industri rumah tangga, seperti membuat kue kering kerajinan tangan dari kerang-kerang laut untuk dijual sebagai oleh-oleh bagi pengunjung.

Editor: Masuki M. Astro
Copyright © ANTARA 2025

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |