Jakarta (ANTARA) - Mata Ruslan (52) tampak berkaca-kaca menceritakan tentang rumahnya yang akhirnya mendapatkan aliran listrik untuk pertama kalinya.
Bagi Ruslan, cahaya itu bukan sekadar lampu yang menyala, tapi harapan yang perlahan tumbuh di sudut-sudut rumah panggung miliknya di Desa Bandar Jaya, Kecamatan Sekayu, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan.
Ia menuturkan bahwa dulu ia bekerja sebagai sopir truk, merantau dari satu kota ke kota lain di Sumatera Selatan dan Pulau Jawa. Setelah bertahun-tahun hidup berpindah-pindah, pada 2010 ia dan istrinya, Samitri (49), memutuskan untuk pulang ke kampung halaman. Mereka ingin membesarkan anak-anak di tanah kelahiran, meski harus memulai segalanya dari nol.
Di desa itu, listrik belum menjangkau rumah-rumah warga. Ruslan dan tetangganya mengandalkan genset untuk penerangan, dengan bahan bakar yang harus dibeli.
Namun, karena keterbatasan daya listrik yang dihasilkan dan keterbatasan ekonomi untuk membeli bahan bakar, Ruslan tak bisa menyalakan genset sepanjang hari.
Biasanya, ia menyalakannya sebentar sekitar pukul 04.30 setelah salat subuh, sekadar untuk menyiapkan sarapan. Setelah itu, mesin dimatikan dan baru dinyalakan kembali sore hari sekitar pukul 17.30 hingga pukul 22.00.
Sebagai buruh tani di kebun karet dan sawit, penghasilan Ruslan tak menentu. Kadang Rp700 ribu dari sawit, kadang Rp800 ribu dari karet. Totalnya paling tinggi Rp1,6 juta sebulan.
Ruslan bercerita bahwa istrinya sebenarnya penjahit. Namun, sebelum ada listrik, semangat sang istri untuk menjahit sempat menurun karena harus mengandalkan genset yang sulit dinyalakan.
Selain itu, aliran listrik dari genset juga tidak stabil sehingga mesin jahit kerap mati mendadak. Kini, setelah listrik masuk ke rumah, semuanya menjadi lebih mudah. Cukup colok dan langsung bisa digunakan.
Ruslan (52) penerima manfaat program Bantuan Pasang Baru Listrik (BPBL) berpose di rumahnya di Desa Bandar Jaya, Kecamatan Sekayu, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, Kamis (16/10/2025) (ANTARA/Shofi Ayudiana)Keluarga Ruslan menjadi salah satu penerima manfaat program Bantuan Pasang Baru Listrik (BPBL) dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bekerja sama dengan PT PLN (Persero). Melalui program ini, mereka mendapat sambungan listrik gratis untuk rumah tinggal.
Bagi Ruslan, listrik bukan sekadar cahaya. Ia adalah harapan. Anak sulungnya kini kuliah merantau di Palembang, sementara anak bungsunya masih SMA dan harus naik motor sendiri ke sekolah.
Baca juga: Bahlil: Prabowo targetkan seluruh desa teraliri listrik pada 2030
Editor: Dadan Ramdani
Copyright © ANTARA 2025
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































