Jenewa (ANTARA) - Komisioner Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia Volker Turk pada Jumat (27/2)memperingatkan bahwa dunia menjadi semakin berbahaya seiring meningkatnya jumlah konflik bersenjata, pengabaian hukum internasional, serta serangan terhadap warga sipil.
"Ancaman dan penggunaan kekerasan untuk menyelesaikan perselisihan menjadi lebih sering dan dinormalisasi," kata Turk kepada Dewan Hak Asasi Manusia, seraya mencatat jumlah konflik bersenjata hampir berlipat ganda sejak 2010 menjadi sekitar 60.
"Dunia benar-benar menjadi tempat yang lebih berbahaya," ujarnya.
Turk mengatakan warga sipil menanggung risiko tertinggi, menggambarkan konflik sebagai "gurun hak asasi manusia," dan memperingatkan terhadap kembalinya kekerasan sebagai prinsip dalam urusan internasional.
Ia mengutip krisis besar, mulai dari Sudan dan Ukraina hingga wilayah Palestina yang diduduki Israel dan Myanmar, sebagai contoh "pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional," termasuk serangan terhadap infrastruktur, konvoi kemanusiaan, dan penduduk sipil.
Baca juga: Konflik memanas, Pakistan-Afghanistan saling serang
"Serangan terhadap warga sipil meningkat hampir sepertiga," katanya, seraya menambahkan bahwa mengabaikan kejahatan berat hanya akan memicu "pertumpahan darah yang lebih besar."
Ia juga memperingatkan bahwa sejumlah pemimpin justru melemahkan lembaga-lembaga yang dirancang untuk menegakkan hukum dan akuntabilitas global.
"Sebaliknya, beberapa dari mereka menyerang lembaga-lembaga yang dirancang untuk menjaga keamanan kita – Perserikatan Bangsa-Bangsa, termasuk Mahkamah Internasional; Mahkamah Pidana Internasional; Dewan ini dan mekanisme-mekanismenya," kata Turk.
Meskipun prospeknya suram, ia menegaskan bahwa hak asasi manusia tetap menjadi pusat stabilitas global dan kepercayaan publik.
"Singkatnya, orang-orang sangat menginginkan hak asasi manusia mereka," katanya.
Turk mendesak negara-negara untuk kembali berkomitmen pada hukum internasional, akuntabilitas, dan kerja sama.
Baca juga: PBB serukan penghentian konflik di sepanjang garis biru di Lebanon
Baca juga: Laporan PBB: 21 juta lebih warga Sudan terancam kelaparan
Penerjemah: Yoanita Hastryka Djohan
Editor: Anton Santoso
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































