MPR: Guru garda terdepan bangsa membumikan nilai-nilai Pancasila

3 hours ago 3
Mari bersama-sama kita jaga masa depan generasi muda dan rawat keutuhan bangsa dengan nilai-nilai Empat Pilar

Jakarta (ANTARA) - Anggota MPR RI Iyeth Bustami mengatakan guru sebagai garda terdepan pendidikan bangsa untuk membumikan nilai-nilai Pancasila di lingkungan sekolah, membentengi moral generasi muda dari derasnya arus desrupsi digital serta dampak negatifnya.

"Bapak dan ibu guru adalah pihak yang paling tepat hadir di sini, karena bapak dan ibulah penyambung lidah yang berhadapan langsung dengan generasi penerus kita setiap hari. Mari bersama-sama kita jaga masa depan generasi muda dan rawat keutuhan bangsa dengan nilai-nilai Empat Pilar," kata Iyeth dalam keterangannya diterima di Jakarta, Minggu.

Pesan pentingnya nilai-nilai Empat Pilar sebagai benteng moral generasi muda itu disampaikan legislator asal Daerah Pemilihan (Dapil) Riau I itu pada kegiatan sosialisasi Empat Pilar MPR RI yang digelar oleh Kelompok I Badan Sosialisasi MPR RI berkolaborasi dengan Komunitas Biru Nusantara (Kobinus) di Kota Bekasi, Jawa Barat, Sabtu (12/9).

Baca juga: Anggota MPR: Nilai Pancasila selaras dengan ajaran Islam

Dalam sosialisasi itu, Iyeth menekankan bahwa sosialisasi Empat Pilar MPR RI yakni Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhinneka Tunggal Ika, bukan sekadar hafalan, melainkan kompas etika kehidupan bermasyarakat yang kini menghadapi tantangan berat akibat dampak negatif media sosial.

"Negara kita semakin maju dan teknologi kian canggih, namun yang paling saya khawatirkan adalah dampak buruk media sosial terhadap anak-anak kita yang secara mental masih labil," ujarnya.

Di hadapan sekitar 300 peserta yang didominasi oleh kaum perempuan dan tenaga pendidik dari berbagai latar belakang suku dan daerah tersebut, ia membagikan pengalaman pribadinya saat kerap menjadi sasaran ujaran kebencian di dunia maya akibat tuntutan peran di televisi.

Menurutnya, hal itu mencerminkan fenomena pudarnya batas kesantunan di ruang digital, dimana orang merasa bebas menghujat tanpa memikirkan empati maupun etika bertatap muka.

Baca juga: MPR dorong guru PAUD tanamkan nilai Empat Pilar sejak dini

"Begitu mudahnya sumpah serapah terlontar di media sosial. Saya titip kepada bapak dan ibu guru, tolong ingatkan anak didik kita bahwa saat hendak mengetik komentar di media sosial, bayangkan orang itu berada langsung di depan muka kita," tegasnya.

"Apakah kita berani bicara sekasar itu? Di depan orang kita selalu menjaga tata krama, tetapi di gawai banyak yang merasa kebal," sambungnya.

Iyeth juga menyoroti fenomena Strawberry Generation serta pergeseran budaya di kalangan remaja saat ini, mulai dari bahasa pergaulan yang kerap menormalisasi makian dengan bahasa yang kurang pantas, diikuti perubahan gaya berpakaian yang menabrak norma ketimuran, hingga menurunnya ketahanan mental generasi muda.

"Gawai memang ada manfaatnya untuk ilmu pengetahuan, tetapi mudaratnya juga luar biasa jika diserap tanpa saringan. Di sinilah peran vital bapak dan ibu guru serta orang tua untuk membimbing dan membentengi mereka dengan nilai-nilai agama serta budi pekerti luhur," imbuhnya.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut, anggota Badan Sosialisasi MPR RI lainnya yakni Junaidi Auly dan Nurwayah.

Baca juga: Badan Sosialisasi MPR: LCC sarana membumikan empat pilar

Pewarta: Laily Rahmawaty
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |