Merawat ingatan Kota Tepian, romantisme dan realita tempo dulu

2 weeks ago 13
Buku "Kisah-kisah Samarinda Tempo Dulu" pada akhirnya bukan sekadar kumpulan cerita usang. Itu adalah upaya melawan lupa.

Samarinda (ANTARA) - Sungai Mahakam tak pernah benar-benar tidur, tetapi wajah yang terpantul di permukaannya telah banyak berubah. Dahulu memang belum ada jembatan panjang penghubung kendaraan antara Samarinda Kota-Samarinda Seberang yang dibelah sungai nan luas.

Lebih setengah abad lalu, Samarinda, Kalimantan Timur hanyalah sebuah permukiman dengan tradisi berbasis sungai, di mana suara mesin klotok bersahut-sahutan dengan deru jeep willys yang merayap di ruas jalanan.

Kini, bayangan itu tergantikan oleh ponton-ponton batu bara, hotel-hotel bertingkat, dan gemerlap kota sebagai penyangga penting Ibu Kota Nusantara (IKN).

Dari modernisasi yang nyaris menenggelamkan memori kolektif warganya, Syafruddin Pernyata hadir dengan sebuah sekoci ingatan. Melalui bukunya, "Kisah-kisah Samarinda Tempo Dulu", ia mengajak pembaca untuk menekan tombol pause sejenak, menepi dari kota yang kian metropolis, dan menengok kembali ke belakang. Bukan sekadar untuk bernostalgia, tapi untuk memahami identitas.

Buku yang berangkat dari kepingan-kepingan cerita di grup maya History of Samarinda (HoS) ini bukan sekadar kumpulan status media sosial yang dibukukan. Ini adalah dokumentasi sosial yang merekam kehidupan sebuah kota yang tumbuh dari tepian sungai.

Syafruddin menyoroti transformasi ekonomi yang menjadi tulang punggung perubahan wajah Samarinda. Kota ini tidak tumbuh secara organik semata, melainkan dipacu oleh eksploitasi sumber daya alam yang masif.

Penulis menggunakan istilah emas hijau untuk masa kejayaan kayu (hasil hutan) dan emas hitam untuk era batu bara.

"Bab-bab buku ini seolah menjadi peta waktu bagi transisi tersebut," tulisnya.

Ada bab khusus yang membahas kisah-kisah di balik pabrik tripleks Samarinda. Bagi generasi milenial atau Gen Z Samarinda hari ini, barangkali sulit membayangkan bahwa kota mereka pernah menjadi pusat industri kayu lapis yang jaya, sebelum satu per satu pabrik itu gulung tikar dan menyisakan lahan kosong atau beralih fungsi.

Narasi ini penting karena memberikan konteks pada data demografi yang disajikan penulis, yakni lonjakan penduduk dari 609.380 jiwa pada 2009 menjadi 834.824 jiwa pada 2023.

Ledakan populasi itu adalah konsekuensi logis dari gula-gula ekonomi yang ditawarkan Samarinda, menarik pendatang untuk mengadu nasib, mengubah struktur sosial kota dari masyarakat sungai menjadi entitas urban yang heterogen.

Baca juga: Masjid Shiratal Mustaqiem bukan tempat ibadah biasa di Samarinda

Editor: Dadan Ramdani
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |