Jakarta (ANTARA) - Menteri Lingkungan Hidup (LH) Hanif Faisol Nurofiq menyampaikan dua aglomerasi utama yang masih belum menyiapkan diri untuk pembangunan Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) atau Waste to Energy (WTE) yaitu Jakarta dan Bandung
Dalam rapat kerja dengan Komisi XII DPR RI di Jakarta, Senin, Menteri LH/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) Hanif menyampaikan ada 10 wilayah aglomerasi dari 26 kabupaten/kota yang memiliki jumlah sampah berpotensi dikelola dengan menggunakan PSEL.
"Kecuali dua aglomerasi besar yang memang sebenarnya menjadi utama, namun saat ini belum siap, ini yang memang agak mengkhawatirkan kita semua, yaitu aglomerasi pertama yang sangat krusial dan belum siap adalah aglomerasi dari Daerah Khusus Jakarta yang sampai hari ini belum menyiapkan diri untuk menyelesaikan sampahnya melalui waste to energy," tutur Menteri LH Hanif Faisol Nurofiq.
Baca juga: Wamen PU: PSEL dapat mengurangi beban timbunan sampah di TPA
Padahal, tuturnya, Jakarta memiliki potensi yang sangat besar dengan total timbulan sampah sekitar 8.000 ton per hari. Selain wilayah aglomerasi Jakarta, dia juga menyebut wilayah Bandung Raya yang memiliki timbulan sampah sekitar 5.000 ton setiap harinya.
Menurut Hanif, kedua wilayah itu belum menyiapkan diri untuk pemenuhan aspek-aspek yang diperlukan untuk pembangunan PSEL.
Baca juga: Indef: Pemilahan sampah kunci utama untuk implementasi PSEL
Sementara itu 10 wilayah aglomerasi yang telah ditetapkan untuk pembangunan PSEL adalah Denpasar Raya, Yogyakarta Raya, Bogor Raya, Bekasi Raya, Tangerang Raya, Medan Raya, Semarang Raya, Lampung Raya, Surabaya Raya, dan Serang Raya.
Seluruh wilayah itu mencakup 26 kabupaten/kota dengan rencana sampah yang terkelola dengan PSEL mencapai 14.000 ton per hari.
Dengan wilayah yang menjalani proses lelang untuk pembangunan adalah Denpasar, Yogyakarta, Bogor, dan Bekasi.
Baca juga: Menko Pangan tinjau fasilitas "waste to energy" Bantargebang Bekasi
Pewarta: Prisca Triferna Violleta
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































