Menteri Agama RI temu tokoh lintas agama perkuat toleransi di Maluku

3 weeks ago 15
Jika setiap pemeluk agama menggunakan hati nurani, maka persamaan antaragama akan jauh lebih mudah ditemukan

Ambon (ANTARA) - Menteri Agama Republik Indonesia Nasaruddin Umar menemui para tokoh lintas agama di Provinsi Maluku guna memperkuat persatuan dan toleransi antarumat beragama di daerah yang dikenal sebagai laboratorium kerukunan nasional tersebut.

Nasaruddin Umar di Ambon, Jumat menegaskan bahwa agama sejatinya hadir sebagai kekuatan pemersatu, bukan sumber perpecahan di tengah masyarakat.

“Seharusnya sejak awal negeri ini menerapkan kurikulum cinta. Banyak orang mengajarkan agama, tetapi yang jauh lebih penting adalah bagaimana agama diajarkan untuk mencintai mereka yang berbeda,” kata dia.

Pertemuan lintas agama itu dihadiri perwakilan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Maluku, Gereja Protestan Maluku (GPM), Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Maluku, Kuskupan Amboina, serta Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Permabudhi) Maluku.

Baca juga: Menteri Agama RI napak tilas sejarah bangsa di Banda Naira Maluku

Menurut Menag, jika setiap pemeluk agama menggunakan hati nurani, maka persamaan antaragama akan jauh lebih mudah ditemukan dibandingkan perbedaannya.

“Kalau kita pakai hati nurani, lebih gampang kita temukan persamaan antaragama satu dengan yang lain daripada perbedaan. Mengapa agama harus menjadi faktor pembeda?” ujarnya.

Menag juga mengingatkan bahwa agama memiliki dua potensi, yakni bisa menjadi sumber energi konflik yang paling mudah jika disalahgunakan, namun di sisi lain juga menjadi kekuatan pemersatu yang sangat dahsyat jika dimaknai dengan benar.

“Oleh sebab itu, mari kita tekankan persamaan agama yang satu dengan yang lain. Sangat tidak masuk akal antara Islam dan Kristen berkonflik, karena sejarahnya pun bertemu pada figur yang sama, Ibrahim atau Abraham,” katanya.

Baca juga: Menag angkat ekoteologi dalam peringatan Isra Mikraj di Istiqlal

Menag Nasaruddin juga mengajak umat beragama untuk tidak alergi terhadap perbedaan dan tidak menumbuhkan kebencian atas nama ajaran agama. Menurut dia, semua agama mengajarkan cinta kasih dan penghormatan terhadap sesama manusia.

“Jangan lagi ada cinta yang justru menjelekkan agama lain. Mari kita berkolaborasi. Selama kita masih mempermasalahkan yang satu dan yang banyak, berarti pemahaman agama kita masih dangkal,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Sinode Gereja Protestan Maluku (GPM) periode 2025–2030, Pdt. Sacharias Izack Sapulette, saat diwawancara menyatakan bahwa perbedaan merupakan anugerah yang harus disyukuri bersama.

“Jangan meratapi perbedaan, tetapi syukuri lah perbedaan karena perbedaan itu indah. Agama di Maluku harus terus menjadi kekuatan yang merawat persaudaraan, bukan sebaliknya,” katanya.

Ia juga mengapresiasi komitmen Menteri Agama yang terus mendorong dialog lintas iman sebagai sarana saling mengenal dan memahami satu sama lain.

“Dialog lintas agama membuat kita saling mengerti dan mengenal. Pengalaman seperti ini penting agar umat beragama tidak terjebak pada prasangka, tetapi hidup dalam semangat kebersamaan,” ujar Sapulette.

Pertemuan tersebut diharapkan semakin memperkokoh komitmen bersama seluruh tokoh agama di Maluku untuk menjaga harmoni, merawat toleransi, dan memperkuat persatuan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Baca juga: Isra Mikraj, Menag ajak umat peduli alam dan sosial lewat nilai Shalat

Pewarta: Ode Dedy Lion Abdul Azis
Editor: Sambas
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |