Jakarta (ANTARA) - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, kapasitas data genomik Indonesia yang mencapai 4,5 petabyte, dan akan ditingkatkan hingga 10 petabyte dan dianalisis dengan kecerdasan buatan (AI), membuat Putri Mahkota Swedia Victoria Ingrid Alice Désirée kagum.
Budi mengatakan di Jakarta, Selasa, bahwa Swedia tertarik karena awalnya mereka tidak sadar bahwa Indonesia sudah melakukan ini.
Program genomik, katanya, biasanya hanya dilakukan di negara-negara maju seperti Eropa, Amerika, Inggris, atau Uni Emirat Arab, karena negara-negara maju ingin warganya berumur panjang.
"Mereka ingin hidup sampai 120 atau 130 tahun. Mereka mempelajari ilmu longevity (memperpanjang umur), mencari tahu bagaimana cara tubuh manusia bekerja supaya organ tidak cepat rusak. Crown Princess Victoria begitu melihat ini, beliau kagum bahwa Indonesia mampu melakukannya," tambahnya.
Putri Mahkota Swedia, yang juga merupakan Goodwill Ambassador for the Sustainable Development Goals, United Nations Development Programme (UNDP), mengunjungi Balai Besar Biomedis dan Genomika Kesehatan (BB Genomika) di Gedung Eijkman, Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, Jumat (4/9). Kunjungan ini bertujuan meninjau langsung lompatan teknologi kedokteran presisi di Indonesia melalui program Biomedical and Genomic Science Initiative (BGSI).
Baca juga: Menkes siagakan HEOC dan siapkan obat respons erupsi Anak Krakatau
Budi, yang menyambut langsung kunjungan kenegaraan tersebut memaparkan transformasi riset kesehatan Indonesia. Di gedung bersejarah yang pernah melahirkan penelitian peraih Nobel Christiaan Eijkman tersebut, dia memamerkan kemampuan riset kesehatan Indonesia yang kini telah sejajar dengan negara maju.
Dia menjelaskan bahwa dunia medis saat ini tidak lagi sekadar mencari patogen, yakni virus atau bakteri, tetapi telah menembus pemahaman hingga ke tingkat materi genetik atau DNA.
"Dulu ilmuwan berfokus pada patogen. Virus COVID-19 misalnya, hanya memiliki sekitar 30 ribu pasangan basa (base pairs) DNA, sedangkan manusia memiliki dua miliar pasangan basa. Melalui ilmu genomik, jika ginjal seseorang rusak, kita bisa mencari tahu struktur DNA mana yang bermasalah untuk diperbaiki secara presisi," katanya.
Untuk merealisasikan pengobatan presisi, Kemenkes terus menghimpun data genetik, baik dari pasien rumah sakit maupun pemeriksaan kesehatan rutin masyarakat. Saat ini, pemerintah mengklaim telah mengumpulkan sekitar 70 juta data kesehatan.
Kapasitas pembacaan susunan DNA atau sequencing di Indonesia juga diklaim melonjak tajam. Dari 1.500 sampel pada 2025, katanya, kapasitasnya kini meningkat tiga kali lipat menjadi 4.500 sampel. Menurut dia, peta genom ini menjadi kunci karena setiap ras memiliki profil genetik yang berbeda.
Baca juga: Menkes: Teknologi LVAD buka peluang sembuh pasien gagal jantung berat
"Sebagai informasi untuk teman-teman, genom setiap ras itu berbeda-beda. Genom ras Eropa berbeda dengan ras Asia, dan berbeda pula dengan ras Afrika. Dengan memahami berbagai jenis ras ini, kita bisa tahu risiko penyakitnya," katanya.
Dia mencontohkan, untuk kanker payudara, ada mutasi genetik berupa BRCA1 dan BRCA2. Apabila setelah sequencing ditemukan mutasi di situ, kemungkinan besar orang tersebut akan terkena kanker. Sehingga, katanya, lebih baik dirawat lebih awal.
Pencapaian infrastruktur genetik ini, katanya, rupanya di luar ekspektasi dunia internasional. Dia mengungkapkan bahwa delegasi Swedia awalnya tidak menyangka Indonesia telah menjalankan program genomik berskala nasional.
Pengelolaan data genomik ini membutuhkan infrastruktur big data berskala masif. Kemenkes saat ini telah menyimpan 4,5 petabyte data genomik dan menargetkan peningkatan hingga 10 petabyte. Data raksasa tersebut akan dianalisis menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk mendeteksi risiko penyakit berat lebih awal, sekaligus mendukung riset longevity tersebut.
Melalui lawatan kenegaraan yang berlangsung hingga 8 September 2026 ini, dia berharap akan ada tindak lanjut kerja sama strategis antara Indonesia dan Swedia.
"Kita tentu berharap ke depannya ada dukungan program melalui pendanaan atau donasi teknis, terutama karena inisiatif ini membutuhkan kapasitas pengelolaan big data yang luar biasa besar," pungkas Menkes Budi.
Baca juga: Menkes ajukan Rp1,39 triliun untuk pemulihan fasilitas kesehatan NTT
Pewarta: Mecca Yumna Ning Prisie
Editor: Riza Mulyadi
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































