Menjahit kembali nadi perdagangan

2 hours ago 3

Surabaya (ANTARA) - Seorang ibu pembeli berhenti sejenak di depan deretan lapak yang kini tertata rapi. Ia tak lagi harus mengangkat ujung celana untuk menghindari becek, atau menahan napas karena bau yang menyengat.

Langkahnya lebih ringan, pandangannya lebih leluasa. Di sekelilingnya, pedagang berdiri di tempat yang lebih layak, tak lagi menyebar hingga ke badan jalan. Perubahan itu terasa sederhana, tetapi diam-diam mengubah cara orang memandang pasar dari ruang yang ditoleransi menjadi ruang yang kembali dihargai.

Pemerintah Kota Surabaya, dalam beberapa tahun terakhir tampak semakin serius menggarap sektor ini. Tahun 2026 menjadi fase percepatan, dengan setidaknya sepuluh pasar ditargetkan dibenahi, lima di antaranya dikebut rampung pada pertengahan Mei. Pasar Tembok Dukuh, Pasar Kembang, Pasar Babakan Baru, Pasar Wonokromo, dan Pasar Simo Gunung menjadi titik awal dari upaya besar yang lebih sistematis.

Langkah ini tidak muncul tiba-tiba. Ia merupakan respons atas persoalan klasik pasar tradisional yang sudah lama mengendap seperti halnya infrastruktur buruk, tata kelola lemah, dan daya saing yang terus tergerus oleh pasar modern.


Benah fungsi

Revitalisasi pasar di Surabaya memperlihatkan satu pendekatan yang cukup jelas, yakni mengembalikan fungsi dasar pasar sebagai ruang transaksi yang layak. Fokus utamanya bukan pada estetika semata, tetapi pada hal-hal mendasar, seperti drainase, lantai, atap, hingga sirkulasi udara.

Kasus Pasar Tembok Dukuh menjadi contoh konkret. Sebelum dibenahi, pasar ini kerap tergenang akibat saluran air yang sempit dan posisi lantai yang lebih rendah dari jalan. Kondisi ini tidak hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga mendorong munculnya pasar tumpah di badan jalan. Revitalisasi kemudian dilakukan dengan memperbaiki drainase, meninggikan lantai, serta menata ulang area pedagang.

Hasilnya tidak hanya terlihat secara fisik. Kapasitas pasar meningkat dari sekitar 135 stan menjadi 189 stan. Artinya, ada upaya nyata untuk mengakomodasi pedagang yang sebelumnya berada di luar sistem. Pendekatan ini penting, karena persoalan pasar tidak bisa diselesaikan hanya dengan pembangunan fisik, tanpa memikirkan keberadaan pelaku ekonominya.

Di sisi lain, Pasar Babakan Baru dan Wonokromo menunjukkan arah baru dalam pengelolaan pasar berbasis standar kesehatan. Penataan sistem pemotongan unggas yang lebih higienis, bahkan dilengkapi instalasi pengolahan air limbah, menandai pergeseran paradigma. Pasar tidak lagi dilihat sebagai ruang informal yang serba longgar, tetapi sebagai bagian dari sistem perdagangan yang harus memenuhi regulasi.

Langkah ini selaras dengan kebijakan nasional yang mendorong pasar rakyat menjadi lebih bersih, tertata, dan berdaya saing. Namun, di balik itu semua, ada satu pertanyaan penting: apakah revitalisasi ini cukup untuk mengubah persepsi publik terhadap pasar tradisional?

Budaya pasar

Revitalisasi sering kali berhenti pada aspek fisik. Padahal, persoalan pasar tradisional jauh lebih kompleks. Ia menyangkut perilaku pedagang, kebiasaan konsumen, hingga sistem pengelolaan yang berkelanjutan.

Surabaya tampaknya mulai menyadari hal ini. Selain membenahi bangunan, pemerintah juga mendorong perubahan pola pikir pedagang. Penertiban jenis dagangan, penerapan standar operasional prosedur kebersihan, hingga dorongan menuju transaksi nontunai menjadi bagian dari transformasi yang lebih luas.

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |