Menbud dorong Benteng Gunung Kunci-Palasari jadi cagar budaya nasional

3 weeks ago 18

Jakarta (ANTARA) - Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon mendorong Benteng Gunung Kunci dan Benteng Palasari di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat menjadi cagar budaya tingkat nasional sehingga pelestarian cagar budaya maupun kawasan hutan dapat berjalan secara maksimal.

Fadli menilai ekosistem alam yang ada di situs tersebut sendiri sudah sangat baik. Pohon-pohon dan sebagainya juga pernah dijadikan semacam memorial plant yang ia nilai merupakan suatu gagasan bagus.

"Pohon-pohonnya langka, namun tetap merupakan bagian dari pohon endemik lokal. Jadi kita berharap cagar budaya seperti ini nanti juga bisa kita jadikan cagar budaya nasional,” kata Fadli dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu.

Baca juga: Kemenbud komitmen perkuat pelestarian Situs Cibalay dan Arca Domas

Dia menyampaikan hal tersebut saat meninjau Situs Tahura (Taman Hutan Raya) Gunung Kunci - Palasari yang terletak di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Peninjauan menjadi bentuk komitmen Kementerian Kebudayaan untuk melestarikan peninggalan sejarah di wilayah Jawa Barat.

Dalam peninjauan tersebut, Fadli menegaskan bahwa Benteng Gunung Kunci merupakan bukti nyata dari riwayat militer kolonial Belanda pada masanya. Benteng Gunung Kunci dibuat pada tahun 1917, di mana strukturnya relatif kompleks dan lengkap untuk sebuah benteng.

"Mungkin terlihatnya semacam benteng yang menyatu, baik untuk pemantauan, logistik, kantor, dan sebagainya. Benteng Gunung Kunci dengan Benteng Palasari mungkin merupakan satu rangkaian yang dibangun di masa yang sama, yaitu pada masa Perang Dunia Pertama,” tuturnya.

Baca juga: Menbud tegaskan komitmen revitalisasi Museum Situs Pasir Angin

Rangkaian peninjauan dilanjutkan dengan kunjungan ke Benteng Palasari. Dalam kesempatan tersebut, Fadli menjelaskan bahwa Benteng Palasari merupakan cagar budaya yang sarat dengan narasi sejarah sekaligus kaya akan nilai historis.

“Taman Hutan Raya Palasari ini merupakan tempat situs cagar budaya Benteng Palasari. Proses identifikasi menyebutkan ada delapan benteng yang diperkirakan dibuat pada awal abad ke-20. Jadi mungkin kalau diletakkan di dalam konteksnya, benteng ini dibangun pada saat Perang Dunia Pertama,” terangnya.

Dia juga menyampaikan bahwa situs Benteng Palasari membutuhkan kajian dan riset mendalam. Proses kajian tersebut, lanjutnya, dapat dilakukan dengan kolaborasi lintas sektor, dalam hal ini Kementerian Kebudayaan, Pemerintah Sumedang, serta komunitas dan masyarakat sekitar.

Baca juga: Menbud sebut buku sejarah Indonesia bisa diakses gratis pada Februari

“Tentu kita harus melakukan riset terkait dengan Benteng Palasari. Misalnya bagaimana proses pembuatan, kegunaan, dan apa yang terjadi di Benteng Palasari ini pada saat itu, karena lokasi benteng ini ada di bukit. Dan kalau kita lihat strukturnya cukup kuat, dan ada kamar-kamar yang fungsinya mungkin beragam,” ujar Fadli.

Fadli menegaskan bahwa situs sejarah seperti Benteng Palasari dan Benteng Gunung Kunci merupakan aset budaya yang harus dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat.

“Kita berharap kedua benteng ini dapat menjadi satu tempat wisata budaya dan sejarah yang hidup dengan narasi yang kuat, sekaligus bagaimana kita bisa menjaga ekosistem yang ada di sekitar benteng ini,” ucap Fadli.

Baca juga: Menbud dorong pelindungan situs megalitik di kawasan Lore Lindu

Sementara itu, Bupati Sumedang, Dony Ahmad Munir, menyatakan dukungannya terhadap pelestarian cagar budaya Benteng Gunung Kunci dan Benteng Palasari.

“Pemda Sumedang siap untuk terus memelihara benteng ini dan menjadikannya sebagai tempat edukasi sekaligus wisata bagi masyarakat Sumedang,” ujar Bupati Dony.

Tahura Gunung Kunci - Palasari merupakan kawasan konservasi sekaligus situs sejarah militer Belanda yang terletak di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat.

Kawasan tersebut menyimpan sejumlah peninggalan sejarah, seperti Benteng Gunung Kunci yang dulunya berfungsi sebagai penjara serta gudang amunisi dan Benteng Palasari yang berfungsi sebagai benteng pengintai strategis.

Keduanya merupakan peninggalan pertahanan masa kolonial yang kini menjadi destinasi wisata edukasi sejarah dan budaya.

Baca juga: Menteri Kebudayaan apresiasi pendirian Museum Budaya Madura

Pewarta: Farhan Arda Nugraha
Editor: Siti Zulaikha
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |