Jakarta (ANTARA) - Di sebuah sekolah di daerah Bogor, seorang anak remaja masih duduk di bangku kelas 4, padahal usianya seharusnya sudah berada di kelas 7.
Tahun demi tahun ia mengikuti pelajaran, mendapat tambahan jam belajar, bahkan mengikuti kelas tambahan. Namun satu hal tak berubah bahwa ternyata ia belum mampu membaca dan menulis.
Di luar itu, ia tampak seperti anak lain yang berbicara dengan lancar, mampu bercanda, memahami instruksi lisan, dan berinteraksi dengan baik. Tidak ada yang aneh dari penampilannya. Yang berbeda hanya satu yakni ketika berhadapan dengan huruf dan teks, ia seperti tersesat di dunia yang tidak ia pahami.
Hal yang lebih mengusik adalah fakta bahwa para guru di sekolah tersebut tidak mengenal istilah disleksia. Padahal, dengan mencari secara sederhana di internet tentang penyebab anak tidak bisa membaca dan menulis, istilah itu akan muncul.
Ketidaktahuan inilah yang sering kali menjadi akar masalah. Bukan pada diri anak, melainkan pada sistem yang belum siap memahami keragaman cara belajar.
International Dyslexia Association menjelaskan bahwa disleksia adalah gangguan belajar spesifik yang ditandai dengan kesulitan dalam membaca dan atau mengeja kata. Disleksia bukan penyakit, melainkan kondisi neurobiologis yang sudah ada sejak lahir.
Tim medis RS Siloam menyebutkan sejumlah faktor yang dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya disleksia, antara lain kelahiran prematur atau berat badan lahir rendah, riwayat keluarga dengan disleksia, paparan nikotin, alkohol, NAPZA, atau infeksi selama kehamilan, serta cedera atau kelainan pada struktur otak yang berfungsi mengolah bahasa dan kata.
Kondisi ini membuat seseorang mengalami kesulitan mengenali huruf, menghubungkan huruf dengan bunyi, membaca, mengeja, dan menulis.
Namun satu hal penting harus ditegaskan bahwa disleksia tidak berkaitan dengan kecerdasan. Banyak individu dengan disleksia justru memiliki kemampuan berpikir logis, kreativitas tinggi, dan kecerdasan luar biasa.
Sejarah mencatat nama-nama seperti Albert Einstein, Leonardo da Vinci, dan Steve Jobs sebagai tokoh yang diketahui memiliki disleksia. Di dunia hiburan internasional ada Whoopi Goldberg dan Tom Cruise.
Di Indonesia, Deddy Corbuzier, Aska, serta Tamara Bleszynski juga terbuka mengenai kondisi tersebut. Mereka bahkan bukan sekadar bertahan, tetapi mampu menggali potensi uniknya dan berprestasi di bidang masing-masing.
Pertanyaannya, bagaimana jika seorang anak dengan disleksia tidak dipahami, bahkan dicap bodoh atau malas? Label semacam itu bisa menjadi luka yang jauh lebih dalam dibanding kesulitan membaca itu sendiri.
Baca juga: Akademisi Undiksha penyaji terbaik dalam konferensi IDEC di Malaysia
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































