Melompatlah, Unram

4 weeks ago 16
Tantangan utama Unram bukan lagi sekadar bertahan, melainkan melompat

Mataram (ANTARA) - Sore menjelang malam itu, suasana di Gedung Rektorat Universitas Mataram (Unram) terasa berbeda. Bukan sekadar hasil pemilihan rektor yang diumumkan, melainkan sebuah penanda transisi kepemimpinan yang akan menentukan arah perguruan tinggi negeri terbesar di Nusa Tenggara Barat (NTB) dalam lima tahun ke depan.

Prof Sukardi resmi terpilih sebagai Rektor Universitas Mataram periode 2026–2030 dengan perolehan suara dominan. Kemenangan telak ini tidak hanya mencerminkan legitimasi prosedural, tetapi juga kepercayaan kolektif sivitas akademika terhadap sosok yang dinilai memahami denyut institusi dari dalam.

Pemilihan rektor bukan sekadar ritual demokrasi kampus. Ia adalah momentum evaluasi, harapan, sekaligus pertaruhan masa depan. Universitas Mataram berada pada persimpangan penting.

Di satu sisi, capaian akademik terus meningkat, jumlah guru besar bertambah, dan akreditasi unggul telah diraih. Di sisi lain, tantangan perguruan tinggi negeri kian kompleks, yakni keterbatasan fiskal, tuntutan globalisasi pendidikan, disrupsi teknologi, hingga ekspektasi publik agar kampus tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga berdampak nyata bagi masyarakat.

Dalam konteks itulah, terpilihnya Prof Sukardi menjadi relevan untuk ditelaah lebih dalam. Bukan hanya siapa yang menang, melainkan apa makna kepemimpinan ini bagi arah Unram ke depan.


Jejak akademik

Prof Sukardi bukan figur yang hadir tiba-tiba dalam kontestasi ini. Rekam jejak akademik dan manajerialnya terentang panjang dan berlapis. Ia tumbuh dari lingkungan akademik Universitas Mataram, menapaki jenjang struktural dari level program studi hingga posisi strategis sebagai Wakil Rektor II yang mengelola keuangan dan sumber daya universitas.

Pengalaman ini memberinya pemahaman menyeluruh tentang persoalan institusi, dari ruang kelas hingga neraca anggaran.

Capaian akademiknya juga mencerminkan konsistensi. Meraih gelar guru besar pada usia relatif muda, Prof Sukardi dikenal produktif dalam riset, publikasi, dan pengabdian kepada masyarakat.

Namun, yang kerap menjadi catatan penting adalah gaya kepemimpinannya yang cenderung tenang, tidak retoris, dan berorientasi pada kerja administratif yang rapi. Dalam konteks perguruan tinggi negeri, kualitas ini sering kali justru menjadi fondasi stabilitas.

Sebagai Wakil Rektor II, ia berada di jantung pengelolaan keuangan kampus. Periode ini bertepatan dengan fase penuh tekanan, mulai dari penyesuaian kebijakan anggaran, tuntutan efisiensi, hingga kebutuhan menjaga kesejahteraan dosen dan tenaga kependidikan tanpa membebani mahasiswa. Stabilitas institusi yang terjaga dalam beberapa tahun terakhir menjadi modal simbolik yang kuat dalam pemilihan rektor.

Dominasi suara yang diraih Prof Sukardi juga dapat dibaca sebagai sinyal bahwa sivitas akademika menginginkan kesinambungan yang diperbarui, bukan perubahan drastis tanpa pijakan. Ada harapan bahwa Unram dipimpin oleh figur yang memahami tradisi internal, tetapi tetap mampu membaca arah perubahan eksternal.

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |