Melani Setiawan arsipkan empat dekade seni rupa Indonesia

4 hours ago 5

Surabaya (ANTARA) - Pendiri One Piece Club Indonesia Melani Setiawan menerbitkan sebuah buku monumental berjudul "Indonesian Art World (1977–2022)" yang merekam perjalanan ekosistem seni rupa Indonesia selama lebih dari empat dekade.

Buku setebal 1.400 halaman dengan berat sekitar 2,9 kilogram itu memuat sekitar 4 ribu foto yang sebagian besar merupakan hasil dokumentasi pribadinya sejak akhir 1970-an.

"Arsip yang diterbitkan dalam buku ini belum seluruhnya," kata Melani dalam diskusi buku karyanya yang menjadi bagian dari penyelenggaraan pameran seni rupa ArtSubs 2026 di Surabaya, Minggu.

Baca juga: Membuka batas, merawat seni

Perempuan yang berprofesi sebagai dokter ini sampai sekarang mengaku masih terus melakukan pengarsipan yang tidak berhenti pada peristiwa seni rupa di Indonesia tetapi menjangkau berbagai kegiatan seni di luar negeri, antara lain Korea, Barcelona, dan sejumlah kota di Eropa.

Terkait proses pembuatan buku Indonesian Art World (1977–2022), Melani tidak hanya mengumpulkan foto-foto berbagai peristiwa seni rupa. Ia juga menyimpan surat-menyurat dengan para seniman yang isinya beragam, mulai dari persoalan kesenian, undangan dan kabar kegiatan, hingga curahan hati mengenai persoalan pribadi.

Baca juga: Pameran seni rupa ArtSubs 2026 digelar di Surabaya mulai 19 September

"Buku ini sebenarnya direncanakan terbit pada 2012 tetapi berbagai proses membuat penerbitannya mundur hingga sekitar sepuluh tahun kemudian," ucap putri pelatih sepak bola legendaris Indonesia drg Endang Witarsa ini.

Penundaan penerbitan buku tersebut pada akhirnya justru menunjukkan perjalanan panjangnya yang dengan tekun menyimpan ingatan dunia seni rupa Indonesia.

Salah satu kurator ArtSubs Asmujo Irianto, dalam forum diskusi tersebut, menilai buku Indonesian Art World (1977–2022) sebagai embrio ensiklopedia seni rupa kontemporer Indonesia.

Baca juga: Kemenekraf perkuat ekosistem seni rupa melalui Jakarta Biennale 2026

"Tantangannya adalah bagaimana menjadikan data kuantitatif dari buku ini dapat diubah menjadi kualitatif. Karena buku yang sangat menarik aspek visualnya ini dapat menjadi sumber mentah yang dapat dikelola lebih jauh," katanya.

Buku yang mahal ini diharapkan bisa mudah diakses oleh publik agar lebih bisa bermanfaat.

"Kita bisa melihat dalam buku ini, bagaimana seniman muda tumbuh. Bagaimana seniman menghilang. Serta munculnya gelombang seniman muda di Indonesia," ucap doktor seni rupa dari Institut Teknologi Bandung itu.

Baca juga: BPK Kaltim fasilitasi pameran seni rupa tunggal Maestro Cadio Tarompo

Baca juga: Karya seni rupa diharapkan bisa hadir di lebih banyak film Indonesia

Pewarta: Willi Irawan/Hanif Nashrullah
Editor: Siti Zulaikha
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |