Markas gerilya APRI Pacitan jadi bukti fisik perjuangan Indonesia

2 hours ago 4

Jakarta (ANTARA) - Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengatakan bahwa Rumah Markas Gerilya Angkatan Perang Republik Indonesia (APRI) yang terletak di kawasan Nawangan, Pacitan, Jawa Timur, menjadi bukti perjuangan fisik dan faktor penting dalam memperkuat posisi diplomasi Indonesia di tingkat internasional.

"Karena perlawanan fisik yang ada di Sumatera dan di Jawa, termasuk dipimpin oleh Jenderal Sudirman di Jawa terutama, itu memberikan sinyal kepada delegasi kita bahwa Indonesia masih ada dan masih terus melawan kolonialisme Belanda," ujar Fadli Zon dalam keterangan yang dikonfirmasi dari Jakarta, Sabtu.

Keberadaan markas itu menunjukkan bagaimana Perlawanan yang dipimpin Jenderal Sudirman di Jawa, bersama dengan Pemerintahan Darurat Republik Indonesia di Sumatera, memberikan sinyal kuat kepada dunia bahwa Indonesia masih ada dan terus melawan kolonialisme.

Baca juga: Pengembangan Museum Song Terus diperlukan agar menjadi pusat edukasi

Rumah itu merupakan salah satu lokasi penting dalam sejarah perjuangan bangsa, yang pernah digunakan oleh Jenderal Sudirman sebagai markas gerilya pada masa Agresi Militer Belanda II, tepatnya pada 1 April hingga 7 Juli 1949, sebelum kembali ke Yogyakarta.​​​​​​​

Fadli Zon menjelaskan bahwa rumah tersebut menjadi salah satu markas penting dalam fase akhir perjuangan gerilya, sebelum Jenderal Sudirman kembali ke Yogyakarta setelah dijemput oleh delegasi pemerintah.

Pada masa itu, Fadli Zon menambahkan, Belanda telah melanggar perjanjian gencatan senjata dan mengeklaim Republik Indonesia sudah tidak lagi ada. Tapi, perlawanan yang terus berlangsung di berbagai wilayah justru membuktikan eksistensi Indonesia di mata dunia.

Belanda, kata dia, melanggar perjanjian gencatan senjata. Jenderal Sudirman kemudian memimpin gerilya dan berpindah-pindah.

Selain meninjau rumah markas APRI, Menteri Kebudayaan juga mengunjungi kawasan Monumen Panglima Besar Jenderal Sudirman yang berada dalam satu kawasan yang sama.

Di lokasi ini terdapat monumen utama, diorama perjuangan gerilya, serta ruang-ruang edukasi yang menggambarkan perjalanan dan strategi perang gerilya Jenderal Sudirman dalam mempertahankan kemerdekaan.

Kunjungan itu menegaskan komitmen Kementerian Kebudayaan dalam menjaga, merawat, dan menghidupkan kembali situs-situs bersejarah sebagai sumber pembelajaran publik sekaligus penguat karakter bangsa.

Rumah Markas Gerilya APRI di Nawangan diharapkan tidak hanya menjadi penanda sejarah, tetapi, juga ruang refleksi bagi generasi masa kini untuk memahami nilai perjuangan, keteguhan, dan semangat pantang menyerah yang diwariskan oleh Jenderal Sudirman dan para pejuang bangsa.

Pemerintah juga terus mendorong penguatan narasi sejarah yang inklusif dan berbasis bukti agar warisan perjuangan kemerdekaan tetap relevan dan bermakna bagi masa depan Indonesia.

Baca juga: UI dan Kemenbud perkuat naskah RUU Permuseuman

Baca juga: Menbud dorong penguatan museum sebagai pusat budaya dan edukasi

Baca juga: Menbud resmikan Ruang Pameran Museum Sejarah Al-Qur'an di Sumut

Baca juga: Pemkot Cirebon promosikan Museum Topeng jadi ikon wisata budaya

Pewarta: Sinta Ambarwati
Editor: Natisha Andarningtyas
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |