Palangka Raya (ANTARA) - Mahasiswa Universitas Palangka Raya (UPR), Kalimantan Tengah mengembangkan bedak dingin berbahan arang aktif kayu tumih dan ekstrak daun putat sebagai inovasi kosmetik berbasis bahan alam.
"Penelitian ini berangkat dari upaya mengembangkan bedak dingin tradisional menjadi produk kosmetik fungsional yang memiliki dasar pengujian ilmiah," kata Ketua Tim Riset Mahasiswa, Anisa Nugraha Heni di Palangka Raya, Senin.
Dia menjelaskan penelitian tersebut dilaksanakan melalui Program Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta (PKM-RE) yang didanai Kemendikbudristek.
Baca juga: Enam mahasiswa Prodi Kehutanan UPR terima beasiswa OCS 2024
Tim mengembangkan formulasi bedak dingin dengan memadukan arang aktif kayu tumih (Combretocarpus rotundatus) dan ekstrak daun putat (Planchonia valida). Kedua bahan tersebut dipilih untuk menggabungkan fungsi penyerapan minyak dan aktivitas bioaktif dalam satu produk.
Arang aktif kayu tumih yang merupakan tumbuhan khas lahan gambut Kalimantan Tengah dimanfaatkan karena memiliki struktur mikropori dan luas permukaan yang mendukung kemampuannya menyerap minyak serta kotoran.
“Arang aktif kayu tumih kami gunakan sebagai bahan penyerap, sedangkan ekstrak daun putat berperan sebagai sumber senyawa bioaktif yang mendukung fungsi kosmetik,” ucapnya.
Anisa menjelaskan ekstrak daun putat mengandung flavonoid, tanin, dan senyawa antioksidan lain yang dalam penelitian ini dikaji untuk mendukung aktivitas antibakteri serta membantu menjaga kondisi kulit.
Menurutnya, pengembangan tersebut menggunakan pendekatan hybrid dengan menggabungkan dua bahan aktif, berbeda dari penelitian bedak dingin sebelumnya yang cenderung mengandalkan satu bahan aktif.
Penelitian ini juga diarahkan untuk mengukur efektivitas penurunan kadar sebum secara objektif menggunakan skin analyzer.
“Penggunaan skin analyzer menjadi bagian penting dalam penelitian ini agar efektivitas produk dapat dinilai melalui pengukuran kadar sebum, bukan hanya berdasarkan pengamatan subjektif,” ujarnya.
Baca juga: Sekda dorong mahasiswa UPR pacu kreativitas dan inovasi di era digital
Baca juga: Mahasiswa UPR pelajari arsitektur rumah adat Betang Toyoi
Anisa mengatakan kombinasi arang aktif kayu tumih dan ekstrak daun putat tersebut belum pernah diteliti sebelumnya dengan pendekatan kuantitatif yang sama, sehingga riset ini diharapkan dapat memperluas pemanfaatan bahan alam lokal untuk pengembangan kosmetik.
"Karena Kalimantan Tengah memiliki kekayaan sumber daya alam yang sangat berlimpah, dan sangat bermanfaat untuk masyarakat," ujarnya.
Penelitian ini digagas oleh Anisa (Fisika) bersama Ade Theresia Hutauruk (Fisika), Muhammad Ramadhani (Farmasi), dan Rumita (Kimia), dengan bimbingan dosen pendamping Made Dirgantara.
Tim juga memperkenalkan perkembangan penelitian melalui sejumlah forum ilmiah, antara lain SEMIRATA, Seminar Mahasiswa, dan BASISTORA, sebagai bagian dari kegiatan diseminasi hasil riset dan pengembangan jejaring akademik.
Pewarta: Muhammad Arif Hidayat/Rajib Rijali
Editor: Endang Sukarelawati
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































