Jakarta (ANTARA) - Lembaga Sensor Film (LSF) mengemukakan tantangan yang dihadapi sektor film nasional meliputi kepercayaan penonton nasional.
"2026 kita ingin film nasional kita terus meningkat dari sisi jumlah, termasuk dari sisi apresiasi penonton. Karena tahun terbaiknya sudah terbentuk di 2024 dan 2025, tantangan kita adalah mempertahankan kepercayaan publik, kepercayaan penonton film nasional Indonesia, agar tetap stay mengapresiasi film-film nasional kita," kata Ketua LSF Naswardi dalam konferensi pers yang digelar di Jakarta, Rabu.
Bila mengacu capaian jumlah penonton film Tanah Air yang disampaikan Kementerian Kebudayaan, pada 2025 tercatat sebanyak 80,2 juta penonton dan menjadikan catatan ini sebagai rekor tertinggi hingga kini.
Baca juga: LSF telah terbitkan 36.926 surat lulus sensor hingga November 2025
LSF, kata dia, terus berupaya meningkatkan kualitas film yang tayang di dalam negeri melalui fungsi pengawasan yang ketat dengan memberikan status "Tidak lulus sensor" dan "Lulus sensor" pada film.
"Hal ini sebagai bentuk perlindungan terhadap potensi dampak negatif konten yang melanggar ketentuan hukum dan norma," katanya lagi.
Adapun pada 2025, LSF telah menerbitkan sebanyak 41.092 surat tanda lulus sensor (STLS). Kemudian juga mencatat capaian sebanyak 545 judul film layar lebar telah disensor, film nasional sebanyak 270 judul dan film impor sebanyak 275 judul.
Baca juga: LSF luncurkan maskot "Mama Culla" dukung literasi sensor mandiri
Sementara berdasarkan distribusi penggolongan usia, kategori Remaja (13+) berada di urutan teratas mencapai 46,96 persen, disusul kategori Semua Umur (SU) sebesar 29,50 persen dan Dewasa 17+ 22,66 persen.
Lonjakan permohonan sensor hingga dua kali lipat terjadi pada materi film untuk Jaringan Teknologi Informatika atau over the top (OTT) seperti Netflix, Disney+, Vidio, Viu, dan lain-lain.
Di sisi lain, materi tayangan televisi (free to air) mengalami tren penurunan volume penyensoran. LSF menganalisisnya sebagai dampak dari tekanan ekonomi industri penyiaran konvensional dan migrasi pengiklan serta penonton ke platform digital.
Baca juga: LSF berkomitmen hadirkan literasi tontonan di berbagai media
Produksi film dan iklan nasional menunjukkan ketahanan yang kuat dengan kontribusi sebesar 23.462 judul (63,57 persen), melampaui materi impor dengan 13.452 judul (36,43 persen).
Secara tingkat kepatuhan pemilik film terhadap kriteria sensor sangat tinggi, di mana 99,77 persen materi dinyatakan lulus tanpa revisi.
Baca juga: Lembaga Sensor Film gencarkan literasi penyensoran di Palu
Baca juga: Menbud tekankan pentingnya budaya sensor mandiri bagi penonton film
Pewarta: Sinta Ambarwati
Editor: Siti Zulaikha
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































