China sesalkan berakhirnya perjanjian pengendalian nuklir AS-Rusia

2 hours ago 3

Beijing (ANTARA) - Pemerintah China menyesalkan berakhirnya perjanjian pengendalian senjata nuklir antara Amerika Serikat dan Rusia, yang dikenal sebagai New START, seraya menegaskan tidak berniat terikat dalam perjanjian sejenis.

"Dari sudut pandang China, berakhirnya Perjanjian New START benar-benar disesalkan, tapi kekuatan nuklir China sama sekali tidak setara dengan AS atau Rusia. Karenanya, China tidak akan ikut serta dalam negosiasi perlucutan senjata nuklir untuk saat ini," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian dalam konferensi pers di Beijing, Kamis.

Perjanjian pengendalian senjata nuklir antara AS dan Rusia bernama New START yang merupakan singkatan dari Strategic Arms Reduction Treaty (Perjanjian Pengurangan Senjata Strategis) telah berakhir per 4 Februari 2026.

Perjanjian tersebut membatasi jumlah hulu ledak nuklir strategis AS dan Rusia masing-masing hingga 1.550 unit, serta membatasi jumlah kendaraan dan sistem pengiriman strategis—seperti pesawat pembom berat, ICBM, dan SLBM—hingga 800 unit.

"Perjanjian ini sangat penting untuk stabilitas strategis global, dan ada kekhawatiran luas tentang dampaknya terhadap sistem pengendalian senjata nuklir internasional dan tatanan nuklir global setelah perjanjian tersebut berakhir," kata Lin Jian seraya menambahkan bahwa Rusia telah mengusulkan agar Rusia dan AS terus mematuhi batasan utama perjanjian tersebut.

"China berharap AS akan secara aktif menanggapi usulan Rusia, mencari solusi yang bertanggung jawab atas berakhirnya perjanjian tersebut, dan melanjutkan dialog stabilitas strategis dengan Rusia sesegera mungkin. Inilah juga yang ingin dilihat dunia," kata Lin Jian melanjutkan.

Lin Jian menegaskan bahwa China mengikuti strategi nuklir defensif dan kebijakan "tidak menggunakan senjata nuklir lebih dahulu" dan berjanji tanpa syarat untuk tidak menggunakan atau mengancam dengan senjata nuklir terhadap negara-negara non-senjata nuklir dan zona bebas senjata nuklir.

"China mempertahankan kemampuan nuklirnya pada tingkat minimum yang dibutuhkan oleh keamanan nasional, dan tidak berniat untuk terlibat dalam perlombaan senjata dengan negara mana pun," kata Lin Jian.

China, ungkap Lin Jian, percaya bahwa perlucutan senjata nuklir harus mengikuti prinsip-prinsip "menjaga stabilitas strategis global" dan "keamanan yang tak berkurang untuk semua."

Perjanjian New START memberikan langkah-langkah transparansi untuk menghindari salah menilai niat masing-masing melalui transfer data, pemberitahuan dan inspeksi di lokasi.

New START merupakan kesepakatan dengan periode 10 tahun yang ditandatangani oleh Presiden AS saat itu, Barack Obama dan Presiden Rusia Dmitry Medvedev pada 2010 dan mulai berlaku efektif mulai 5 Februari 2011.

Perjanjian tersebut diperpanjang pada 2021 selama lima tahun lagi setelah Presiden AS Joe Biden menjabat dan Rusia dipimpin Presiden Vladimir Putin dan berakhir pada 4 Februari 2026. Berakhirnya kesepakatan tersebut berarti bahwa Moskow dan Washington akan bebas untuk meningkatkan jumlah rudal dan mengerahkan ratusan hulu ledak strategis lagi, meskipun hal ini menimbulkan tantangan logistik dan akan membutuhkan waktu.

Sebelum perjanjian New START, ada perjanjian START yang ditandatangani pada 1991 oleh AS dan Uni Soviet berisi larangan bagi masing-masing negara penandatangan untuk mengerahkan lebih dari 6.000 hulu ledak nuklir yang berlaku hingga 2009.

Pada Januari 2025, diketahui Rusia memiliki 4.309 hulu ledak nuklir, dan AS memiliki 3.700. Prancis dan Inggris, yang merupakan sekutu AS yang terikat perjanjian, masing-masing memiliki 290 dan 225, sementara China memiliki sekitar 600.

Berakhirnya New START juga dapat mengancam perjanjian nonproliferasi nuklir (NPT) tahun 1970 yang berisi kesepakatan negara-negara tanpa senjata nuklir berjanji untuk tidak memiliki senjata nuklir selama negara-negara pemilik senjata tersebut melakukan upaya dengan itikad baik untuk melucuti senjata.

Baca juga: Sekjen PBB: Dunia masuki 'masa kelam' tanpa batasan nuklir

Baca juga: PBB minta Rusia, AS kembali berdialog soal pengurangan senjata nuklir

Pewarta: Desca Lidya Natalia
Editor: M Razi Rahman
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |