Komisi VII DPR pertanyakan harga semen lebih mahal di Aceh

3 months ago 18

Banda Aceh (ANTARA) - Komisi VII DPR mempertanyakan harga jual eceran semen yang diproduksi di Aceh tepatnya di Pabrik PT Solusi Bangun Andalas, Aceh Besar, Provinsi Aceh lebih mahal dari Sumatera Utara.

"Kami mendapati bahwa harga semen yang diproduksi PT Solusi Bangun Andalas dijual di Aceh lebih mahal dan di Medan lebih murah," kata Ketua komisi VII Ketua Komisi VII DPR RI Saleh Partaonan Daulay di Aceh Besar, Jumat.

Pernyataan itu disampaikan di sela-sela kunjungan kerja reses Komisi VII DPR RI pada Masa Persidangan I Tahun Sidang 2025-2026 ke PT Solusi Bangun Andalas, Aceh Besar, Provinsi Aceh.

Ia menjelaskan seharusnya harga semen yang produksi di Aceh harga jualnya lebih murah karena semua bahan baku tersedia dan tidak terbebani dengan ongkos angkut yang tinggi.

Ia menyebutkan harga semen SBA ditingkat distributor Rp64 ribu per sak dan eceran Rp66 ribu per sak. Sementara harga di Medan Sumatera Utara Rp62 ribu per sak termasuk ongkos angkut masih lebih murah dari Aceh.

"Ini menjadi temuan kami dalam masa reses dan ini menjadi perhatian untuk segera disesuaikan harganya solusi oleh SBA, SBI, dan SGI sebagai group. Harga semen per sak sudah ditambah ongkos angkut juga lebih mahal dari produk semen lainnya di pasaran," katanya.

Karena itu ia meminta PT SBI sebagai perusahaan induk bersama PT SBA dapat segera mengontrol harga pasar sehingga harga jual tidak lebih mahal untuk masyarakat Aceh.

"Terkait harga jual lebih mahal daripada Medan, ini sudah kita berikan PR kepada Semen Andalas, pemerintah pusat juga kita kasih PR agar bersama pemerintah daerah duduk bersama untuk mencari solusi yang terbaik. Kami juga akan memantau terus dan membahas kembali nanti sehingga adanya penyesuaian harga di Aceh," katanya.

Menurut dia, kehadiran perusahaan harus benar-benar bermanfaat kepada masyarakat dan harga jual pun juga harus lebih murah di daerah produksi.

Dalam pertemuan tersebut, Tim Komisi VII juga meminta SBA untuk mengoptimalkan potensi yang ada di perusahaan tersebut seperti mengoptimalkan pembangkit listrik dan produksi yang saat ini baru 1,2 juta ton dari kapasitas 1,8 juta ton.

"Peningkatan produksi tentu akan memberikan dampak positif kepada perusahaan, daerah, dan masyarakat," katanya.

Pihaknya mendengarkan adanya kendala dalam mengoptimalkan potensi itu yakni mesin pembangkit tidak beroperasi sehingga menimbulkan biaya besar dalam operasional.

Dalam kesempatan tersebut pihaknya juga meminta pihak perusahaan memaksimalkan tenaga kerja lokal sehingga kehadiran perusahaan memberikan dampak luas.

Karena itu ia berharap persoalan harga semen di Aceh dapat dibahas di level kementerian sehingga harga jual berbagai produk di daerah produksi lebih murah dari daerah lainnya dan persoalan tersebut tidak terjadi di daerah lain.

Bupati Aceh Besar Muharram Idris juga menambahkan persoalan harga semen di Aceh lebih mahal dari Sumatera Utara sudah lama terjadi.

"Kami sebelumnya juga pernah membahas terkait harga tersebut. Semoga dengan kehadiran Komisi VII DPR dapat menyelesaikan persoalan harga tersebut," katanya.

Plt Direktur Utama SBI Asruddin mengatakan pihaknya akan menindaklanjuti terhadap masukan yang disampaikan oleh Komisi VII DPR RI.

Adapun tim kunjungan kerja reses Komisi VII DPR RI pada Masa Persidangan I Tahun Sidang 2025-2026 ke Provinsi Aceh yakni Saleh Partaonan Daulay (ketua tim), Chusnunia Chalim (wakil ketua tim), Evita Nursanty (wakil ketua tim), dan Lamhot Sinaga (wakil ketua tim).

Serta Novita Hardini, T Zulkarnaini Ampon Bang, Mujakkir Zuhri, Jamal Mirdad, Jefry Romdonny, Siti Mukaromah, Tifatul Sembiring, dan Iman Adinugraha, masing-masing sebagai anggota tim.

Pewarta: M Ifdhal
Editor: Hanni Sofia
Copyright © ANTARA 2025

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |