Jakarta (ANTARA) - Berita tertangkapnya Maidi, Wali Kota Madiun, mengagetkan banyak pihak.
Mayoritas masyarakat Madiun menganggap KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) salah tangkap. Mereka yakin walikotanya baik hati, telah membangun beragam fasilitas publik di “Kota Pecel” itu, dan dekat dengan masyarakat kecil.
Mereka menyayangkan wali kota yang berasal dari level bawah ini ditangkap KPK dalam OTT (Operasi Tangkap Tangan). Mereka masih menganggap, hanya Maidi seorang wali kota yang mampu mengubah wajah Kota Madiun. Maidi mewujudkan adanya tujuh keajaiban dunia di kota ini. Suasana ala Jogjakarta pun muncul di Madiun berkat kiprah Maedi.
Oleh sebab itu, penulis personifikasikan Maidi sebagai “Si Pitung yang tertangkap tangan”. Artinya, realitas sosial bahwa dia sebagai orang baik hati, tidak sama dengan realitas politik yang menganggap dia melakukan korupsi dengan suap proyek bermodus CSR dalam dua periode jabatannya sebagai Wali Kota Madiun.
Kasus Maidi berbeda dengan kasus korupsi yang menimpa kepala daerah lainnya yang kerap kali dianggap sebagai orang yang “cacat” secara hukum dan politik karena melakukan praktik jual beli jabatan, melakukan serangan fajar lalu tertangkap KPK dalam OTT. Maidi berbeda, dia dianggap sebagai orang baik oleh masyarakat, tapi tiba-tiba ditangkap dengan sangkaan korupsi.
Di sinilah ironi yang tajam, ada jurang antara realitas sosial yang dirasakan warga dengan realitas hukum yang ditemukan penyidik. Fenomena ini bukan sekadar soal popularitas, melainkan tentang bagaimana persepsi publik seringkali "dikecoh" oleh penggalan citra yang tidak utuh.
Baca juga: Maidi, dari niat membangun Kota Madiun Mendunia berujung OTT KPK
Media Massa dan Penggalan Realitas
Kekagetan publik atas kasus Maidi merupakan kritik keras terhadap ekosistem media kita. Dalam kacamata ekonomi politik media yang dikembangkan Vincent Mosco, terlihat adanya praktik komodifikasi, spasialisasi dan strukturasi yang dilakukan industri media massa.
Figur publik dan prestasinya telah diubah menjadi "komoditas" yang siap jual. Media cenderung memoles narasi permukaan (seperti kemolekan fisik kota dan gaya populis), karena konten semacam ini memiliki nilai tukar yang tinggi dalam bentuk engagement dan klik.
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































