Kepala desa Indonesia pelajari praktik revitalisasi pedesaan di China

3 months ago 17

Jinan (ANTARA) - Program kunjungan kepala desa Indonesia ke China, yang sudah berlangsung selama enam tahun, mencapai kemajuan baru dengan kunjungan 22 kepala desa dan pejabat pertanian Indonesia ke Provinsi Shandong, China timur, pada awal November ini.

Kunjungan tersebut bertujuan meneliti pengalaman China dalam pengentasan kemiskinan dan revitalisasi pedesaan melalui pengembangan korporasi pertanian, pembangunan industri peralatan pertanian, kesejahteraan masyarakat, dan sebagainya.

Pada awal November, suhu udara di luar ruangan saat pagi hari di Shouguang, Provinsi Shandong, masih di bawah 8 derajat Celsius. Setelah sempat bercakap-cakap mengenai dinginnya udara di luar, para delegasi Indonesia "disambut" oleh hawa panas dan lembap saat memasuki rumah kaca yang dipenuhi aroma tanah dan sayuran segar.

Pengelola rumah kaca sekaligus anggota Korporasi Pertanian Zhongwang, Cui Xinzhong, mengatakan bahwa rumah kaca tersebut dibangun pada 2016 dengan investasi senilai 160.000 yuan (1 yuan = Rp2.347). Dengan menjaga suhu ruangan sekitar 33 derajat Celsius dan tingkat kelembapan kira-kira 88 persen, tanaman mentimun yang tumbuh merambat di punjung tampak segar dan berisi.

Selain itu, berbagai produk pertanian lainnya juga telah memperoleh pengakuan luas di pasar domestik.

Kepala desa Indonesia pelajari praktik revitalisasi pedesaan di China. (ANTARA/Xinhua)

Di Shouguang, yang dijuluki sebagai "keranjang sayuran China", Cui mengelola tiga rumah kaca serupa dengan pendapatan tahunan mencapai 300.000 yuan.

"Korporasi pertanian menghubungkan petani dengan pasar dan pedagang grosir secara lebih optimal, dan menyediakan dukungan teknologi serta bantuan lainnya yang dibutuhkan, sehingga para petani dapat berfokus pada pengelolaan lahan dan hal ini membantu meningkatkan kualitas hasil produk mereka," kata Cui menjelaskan.

Senada dengan Cui, Fajri Suryadi Putera, kepala Desa Kasugihan di Kecamatan Kalianda, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, menyebutkan bahwa model korporasi pertanian di China berhasil memadukan keunggulan berbagai pihak, mulai dari investor, talenta teknologi, manajemen, dan para petani lokal, sehingga mencapai hasil yang saling menguntungkan. Model tersebut juga dinilai efektif dalam mencegah persaingan harga antarpetani yang dapat menekan profit industri lokal secara keseluruhan.

Pembangunan industri peralatan pertanian secara lokal

Sebelum memasuki pabrik milik Weichai Lovol Intelligent Agricultural Technology Co., Ltd. di Weifang, Provinsi Shandong, para delegasi disambut oleh suara dentuman palu pada komponen logam serta gemuruh mesin-mesin industri.

Di samping lini produksi pabrik tersebut, puluhan pekerja terlihat sibuk merakit dan memeriksa berbagai komponen yang akan menjadi bagian dari produk peralatan pertanian utuh. Lini produksi yang modern dan pintar itu secara signifikan meningkatkan efisiensi kerja di pabrik tersebut.

Hal yang paling menarik perhatian para delegasi adalah deretan peti kemas di area luar pabrik tersebut, dengan tulisan dalam bahasa Indonesia yang menjelaskan tentang mesin pemanen padi pintar yang baru diproduksi dan siap diekspor ke Indonesia. Peti-peti kemas tersebut akan digunakan untuk mengangkut mesin-mesin itu dan dikirim melalui Pelabuhan Qingdao menuju Indonesia dalam beberapa hari kemudian.

Kepala desa Indonesia pelajari praktik revitalisasi pedesaan di China. (ANTARA/Xinhua)

Sambil berfoto dengan mesin-mesin tersebut, penasihat dari Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Republik Indonesia Sugito menyampaikan harapannya agar kerja sama dengan Lovol dapat ditingkatkan sehingga petani Indonesia bisa mengakses peralatan pertanian yang lebih modern dengan harga terjangkau.

Pembangunan sambil memprioritaskan kesejahteraan rakyat

Di Yantai, Provinsi Shandong, para delegasi mengunjungi Taman Kanak-Kanak (TK) Nanshan saat para murid sedang berolahraga. Anak-anak menyambut kedatangan tamu dari luar negeri dengan gembira, sementara beberapa kepala desa Indonesia menundukkan badan atau jongkok untuk ikut bermain bersama anak-anak setempat.

TK Nanshan merupakan bagian dari program kesejahteraan yang dijalankan oleh Nanshan Group. Perusahaan raksasa itu bermula dari sebuah usaha desa berskala kecil di Yantai dan secara bertahap berkembang menjadi perusahaan terkemuka yang bergerak di berbagai sektor, termasuk aluminium, tekstil, pariwisata, real estat, dan bidang lainnya.

Kepala desa Indonesia pelajari praktik revitalisasi pedesaan di China. (ANTARA/Xinhua)

Sebagai bentuk kontribusi bagi masyarakat, perusahaan tersebut terus mengembangkan komunitas hunian di Desa Nanshan, tempat kelahiran perusahaan itu, dengan berbagai fasilitas penting, termasuk TK dan fasilitas sekolah.

Kepala Desa Tepian Langsat di Kecamatan Bengalon, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur, mengatakan Zeky Hamzah mengatakan dia menyaksikan bagaimana desa-desa di China memperhatikan pendidikan, pelatihan kejuruan, dan pembangunan prasarana, dan pemerintah di berbagai tingkat, usaha desa, korporasi pertanian, para petani, serta perusahaan raksasa setempat membentuk siklus positif dalam pembangunan ekonomi dan sosial, tata kelola yang lebih baik, dan kesejahteraan masyarakat.

"Ini layak dijadikan contoh bagi desa-desa kami," kata Zeky.

Nanshan Group menerapkan praktik serupa dalam kerja samanya dengan Indonesia. Wang Yuhai, manajer umum grup tersebut, menjelaskan bahwa sejak 2015 perusahaan itu sudah mulai beroperasi di Indonesia, yang dimulai dari industri aluminium.

Selain mengembangkan bisnisnya, Nanshan Group juga mendirikan sejumlah sekolah di Provinsi Jawa Tengah dan berbagai daerah lainnya. Pada 4 November, Desa Nanshan menjalin persahabatan dengan beberapa desa di Indonesia, dengan sejumlah program yang mendorong inovasi di tingkat akar rumput, peningkatan kapasitas produksi, serta promosi pariwisata akan dilaksanakan di desa-desa terkait.

Pejabat dari Kedutaan Besar China untuk Indonesia Liu Peng, menguraikan bahwa program kunjungan kepala desa muncul sebagai salah satu contoh nyata dari "inisiatif kecil tetapi berdampak positif" antara China dan Indonesia.

China siap menyambut lebih banyak kepala desa serta pihak-pihak terkait lainnya dari Indonesia untuk mengunjungi daerah pedesaan di negara tersebut, agar mereka dapat secara langsung menyaksikan pembangunan dan kehidupan rakyat di pedesaan yang luas di China.

Pewarta: Xinhua
Editor: Natisha Andarningtyas
Copyright © ANTARA 2025

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |