Kemenkes kirim 160 nakes ke NTT kuatkan pemulihan psikososial

2 weeks ago 6

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Kesehatan mengirimkan 160 Tenaga Cadangan Kesehatan (TCK) ke Nusa Tenggara Timur untuk memperkuat layanan psikososial dan kesehatan mental masyarakat di wilayah yang terdampak gempa.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes Sumarjaya mengatakan di Jakarta, Selasa, bahwa 160 tenaga kesehatan TCK Batch 2 diberangkatkan dari Terminal 2 Bandara Soekarno-Hatta. Mereka akan ditempatkan di empat kabupaten, yakni Kabupaten Ngada, Manggarai, Manggarai Barat, dan Manggarai Timur.

Dia menjelaskan, pengiriman TCK Batch 2 merupakan kelanjutan dari dukungan Kemenkes pada tahap pertama. Sebelumnya, sebanyak 206 tenaga kesehatan telah diberangkatkan untuk membantu pelayanan kesehatan bagi masyarakat terdampak gempa di NTT.

Pada penugasan tahap kedua, tenaga kesehatan akan memberikan pelayanan di fasilitas kesehatan, baik puskesmas maupun rumah sakit lapangan. Saat ini terdapat dua rumah sakit lapangan yang turut mendukung pelayanan kesehatan masyarakat terdampak, yaitu di Ruteng dan Ngada.

Selain penanganan medis, TCK juga memberikan dukungan psikososial, khususnya bagi anak-anak dan masyarakat yang mengalami trauma akibat bencana.

Baca juga: BNPB: Verifikasi rumah terdampak gempa M 7,7 Flores capai 51.591 unit

Sumarjaya mengatakan dampak bencana tidak hanya menimbulkan persoalan kesehatan fisik, seperti patah tulang dan luka, tetapi juga dapat memengaruhi kondisi psikologis masyarakat akibat kehilangan harta benda maupun pengalaman menghadapi bencana.

“Untuk saat ini, itu adalah lebih kepada psikososial, bagaimana memberikan edukasi, komunikasi kepada masyarakat terdampak,” kata Sumarjaya.

Dalam pelaksanaannya, penugasan TCK mengikuti standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), dengan masa tugas selama 14 hari sebelum dilakukan pergantian personel. Penempatan tenaga kesehatan juga menyesuaikan dengan masa tanggap darurat yang ditetapkan Pemerintah Provinsi NTT hingga 12 September 2026 dan dapat diperpanjang sesuai kebutuhan di lapangan.

Selain mendukung layanan psikososial, katanya, TCK juga membantu perawatan pasien pascaoperasi. Sebelumnya, Kemenkes telah mengerahkan dokter spesialis, termasuk spesialis ortopedi dan bedah, untuk menangani pasien yang membutuhkan tindakan operasi.

“Tim kita surveillance juga kita turunkan untuk melihat, mengidentifikasi penyakit-penyakit apa yang terjadi di sana supaya tidak terjadi potensi KLB dan wabah,” tandas Sumarjaya.

Kemenkes terus memastikan dukungan pelayanan kesehatan bagi masyarakat terdampak gempa di NTT tetap berjalan, baik melalui penguatan tenaga kesehatan maupun dukungan terhadap pemulihan kesehatan fisik dan psikologis masyarakat.

Baca juga: PMI buka pemulihan hubungan keluarga bantu 2.814 penyintas gempa NTT

Dokter umum TCK dr Shaldy Syifa Azzahri mengatakan persiapan sebelum menjalankan tugas dilakukan dengan membawa peralatan dan bahan kesehatan yang dibutuhkan untuk membantu pemulihan masyarakat. Selain kesiapan perbekalan, tenaga kesehatan juga perlu memastikan kondisi fisik dan mental sebelum bertugas.

“Sebagai seorang dokter, kita menyiapkan beberapa alat-alat dan juga bahan yang bisa kita bantu untuk memperbaiki dan juga memulihkan kesehatan masyarakat. Dan pastinya juga sebagai seorang dokter umum, kita juga pastinya bisa mempersiapkan mentalitas kita sendiri dan juga kesehatan kita sendiri sebelum kita membantu orang lain,” kata Shaldy.

Dia menilai pelayanan pascagempa tidak hanya berfokus pada pemulihan kondisi fisik. Setelah beberapa pekan berlalu sejak bencana, dukungan terhadap kondisi psikologis masyarakat juga menjadi bagian penting dalam proses pemulihan.

Sementara itu, dr Rayhendra Hanif, dokter umum TCK asal Padang, mengatakan dirinya mempersiapkan kondisi mental dan perbekalan pribadi, termasuk obat-obatan yang dibutuhkan selama menjalankan penugasan.

Rayhendra juga terdorong untuk bergabung sebagai TCK karena memiliki pengalaman menghadapi bencana gempa. Ia pernah mengalami gempa di Padang pada 2009 ketika masih duduk di bangku sekolah dasar. Pengalaman tersebut membuatnya tergerak untuk memberikan kontribusi kepada masyarakat yang mengalami kondisi serupa.

“Saya dulu dari Padang tahun 2009 itu juga sudah pernah gempa. Jadi hati saya juga tergerak untuk pergi ke NTT karena kondisinya mirip, sama-sama gempa,” katanya.

Baca juga: Mendagri minta kepala daerah di NTT segera gunakan bantuan Presiden

Pewarta: Mecca Yumna Ning Prisie
Editor: Riza Mulyadi
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |