Jakarta (ANTARA) - Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN menekankan pentingnya keluarga menciptakan rumah yang aman untuk melindungi anak dari child grooming.
Child grooming adalah upaya yang dilakukan oleh seseorang untuk mendekati, membangun kepercayaan, dan memanipulasi anak atau remaja dengan tujuan utama eksploitasi seksual.
Wamendukbangga/Wakil Kepala BKKBN Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka dikonfirmasi di Jakarta, Kamis, menyampaikan child grooming menjadi ancaman serius bagi keselamatan serta kesehatan mental anak dan remaja di tengah meluasnya ruang interaksi digital dan melemahnya fungsi perlindungan keluarga.
"Child grooming ini bentuk manipulasi yang menyasar kerentanan anak dan remaja. Kasus ini dapat dipahami sebagai sebuah proses manipulasi yang dilakukan pelaku terhadap anak dan remaja dengan tujuan mengeksploitasi korban," katanya.
Oleh karena itu, peran orang tua atau keluarga menjadi krusial sebagai benteng perlindungan pertama agar anak terhindar dari child grooming. Menurut Isyana, orang tua wajib menjadi sahabat diskusi yang hangat agar anak memiliki ruang aman untuk bercerita tanpa rasa takut dihakimi.
"Orang tua harus menanamkan pemahaman bahwa tubuh mereka adalah otoritas pribadi yang harus dihormati (bodily autonomy). Anak perlu diajarkan konsep aurat dalam kacamata perlindungan diri, siapa yang boleh melihat dan menyentuh, serta bagian mana yang mutlak terlarang bagi orang lain," ujar dia.
Selain itu, lanjut dia, anak perlu diajarkan sejak dini bahwa tubuhnya adalah privasi yang harus dijaga dan ditutupi, sehingga ia memiliki kesadaran jika ada orang lain yang mencoba melanggar batas tersebut.
"Peran ayah dan ibu menjadi prioritas dalam pengawasan anak. Ibu menjadi sosok yang dekat untuk mencegah keburukan secara halus, sementara ayah menjaga wibawa agar kata-katanya tetap memiliki kekuatan saat memberikan arahan atau perlindungan," tuturnya.
Selain itu, orang tua juga perlu mengurangi perilaku menghakimi pada anak. Ketika orang tua mampu membangun komunikasi yang terbuka dan aman dengan anak, mereka akan merasa lebih nyaman untuk terbuka jika ada orang asing atau orang terdekat yang melakukan tindakan mencurigakan kepadanya.
Praktik child grooming kian menjadi perhatian publik semenjak seorang aktris, Aurelie Moremans, menerbitkan buku berjudul "Broken Strings" yang menceritakan memoar atau pengalamannya pernah menjadi korban child grooming dalam perjalanan kariernya.
Kemendukbangga/BKKBN memiliki Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R), di mana remaja akan dibekali edukasi kesehatan reproduksi, literasi digital, relasi sehat, dan perencanaan masa depan. Bina Keluarga Remaja (BKR) juga hadir sebagai penguatan peran orang tua dalam pengasuhan remaja, komunikasi efektif, dan deteksi dini risiko kekerasan seksual.
Baca juga: Wamen Isyana: "Child grooming" isu sosial yang perlu ditangani bersama
Baca juga: Wamen Isyana: "Child grooming" isu sosial yang perlu ditangani bersama
Baca juga: Dukungan sekolah dibutuhkan untuk cegah "child grooming"
Pewarta: Lintang Budiyanti Prameswari
Editor: Nurul Hayat
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































