Jakarta (ANTARA) - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menegaskan pentingnya pertumbuhan hijau atau yang berorientasi lingkungan sebagai elemen krusial dalam agenda pembangunan ekonomi, seiring upaya Indonesia mempercepat aksesi ke Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD).
Ketua Umum Kadin Indonesia, Anindya Bakrie dalam pernyataan yang diterima di Jakarta, Rabu menyampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia harus mampu mengintegrasikan kesejahteraan masyarakat, keberlanjutan lingkungan, serta kepentingan sosial secara berimbang.
Ia juga menilai Indonesia telah memasuki fase baru dalam proses aksesi OECD, dari sekadar niat menuju implementasi nyata.
“Selama satu tahun terakhir, Indonesia telah berpindah dari tahap niat ke tahap pelaksanaan. Aksesi OECD kini merupakan program implementatif dan dunia usaha tidak bisa hanya menjadi penonton. Proses ini akan sangat relevan bagi komunitas bisnis Indonesia,” ujar Anindya.
Saat memberikan keynote remarks pada acara Kadin Indonesia x Growth Gateway Roundtable: Delivering Growth as Part of Indonesia’s OECD Accession Powered by Indonesia Incorporated yang digelar di Boston Consulting Group (BCG) London Office, Inggris, Senin (19/1/2026), Anindya menilai aksesi OECD menjadi jalur praktis untuk memperkuat kredibilitas kebijakan nasional, meningkatkan daya saing, serta memastikan pertumbuhan jangka panjang yang inklusif melalui penyelarasan dengan standar internasional.
Dalam konteks tersebut, Anindya menjelaskan peran strategis Kadin tidak hanya sebagai wadah advokasi dunia usaha, tetapi juga sebagai mitra aktif pemerintah dalam implementasi kebijakan.
Kadin, kata dia, dapat berfungsi sebagai penghubung terorganisasi antara kementerian dan pelaku industri untuk menghimpun masukan sektoral secara terpadu, serta mencegah fragmentasi pesan.
Selain itu, Kadin juga mendorong keterlibatan sektor swasta melalui pembentukan private sector OECD accession working group lintas sektor, dengan fokus pada klaster yang selaras dengan domain OECD, seperti investasi, persaingan usaha, tata kelola perusahaan, praktik bisnis bertanggung jawab, dan lingkungan.
"Kadin mendukung tahap akhir implementasi reformasi melalui sosialisasi dan penguatan kapasitas perusahaan, termasuk rantai pasok dan UMKM, guna mengidentifikasi dampak yang tidak diinginkan sejak dini, serta mendorong adopsi sukarela praktik tata kelola dan bisnis yang bertanggung jawab guna membangun kepercayaan pasar," kata dia.
Lebih lanjut, Anindya juga menyoroti potensi besar kemitraan ekonomi antara Indonesia dan Inggris. Nilai perdagangan kedua negara tercatat mencapai 3,9 miliar dolar AS hingga akhir kuartal II 2025 atau tumbuh 12,2 persen secara tahunan. Meski demikian, Indonesia masih berada di posisi ke-54 sebagai mitra dagang Inggris.
“Sebagai komunitas bisnis, kami melihat ruang yang sangat besar untuk peningkatan. Dengan kerangka komersial yang jelas, kemitraan ini dapat berkembang jauh melampaui capaian saat ini,” kata Anindya lagi.
Pada kesempatan yang sama, Utusan Khusus Presiden untuk Bidang Iklim dan Energi yang juga Ketua Dewan Penasihat Kadin Indonesia, Hashim S. Djojohadikusumo, menegaskan bahwa besarnya skala ekonomi Indonesia membutuhkan dukungan kebijakan yang kuat untuk mendorong pertumbuhan lebih tinggi, salah satunya melalui aksesi ke OECD.
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI Airlangga Hartarto menegaskan komitmen pemerintah dalam mempercepat proses aksesi OECD sebagai bagian dari agenda transformasi ekonomi menuju Indonesia Emas 2045.
“Aksesi OECD bukan sekadar proses teknis, tetapi merupakan prioritas strategis nasional dan fondasi penting untuk mewujudkan visi Indonesia Emas 2045,” ujar Airlangga.
Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Pembangunan Manusia, Kebudayaan, dan Pembangunan Berkelanjutan Kadin Indonesia, Shinta Kamdani, menyoroti pentingnya pembiayaan inovatif, termasuk blended finance, serta pengembangan green jobs sebagai bagian dari agenda transisi hijau nasional.
“Penciptaan lapangan kerja hijau merupakan aspek yang sangat penting, seiring upaya Indonesia menciptakan lebih banyak lapangan kerja. Kami juga terlibat dalam program ketenagakerjaan, peningkatan keterampilan, dan produktivitas di sektor green jobs, bahkan bekerja sama dengan serikat pekerja,” ujar Shinta.
Baca juga: Airlangga tegaskan peran strategis swasta dalam percepatan aksesi OECD
Baca juga: MenPANRB: Aksesi Indonesia ke OECD momen perkuat reformasi birokrasi
Baca juga: Kadin bidik RI cetak pertumbuhan ekonomi 5,4 persen pada 2026
Pewarta: Ahmad Muzdaffar Fauzan
Editor: Biqwanto Situmorang
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































