Jurnalis Sultra doa bersama untuk pewarta yang hilang di Selat Sunda

11 hours ago 9

Kendari (ANTARA) - Jurnalis se-Sulawesi Tenggara (Sultra) menggelar doa bersama untuk para pewarta foto yang hilang saat meliput erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda.

Doa bersama ini sebagai bentuk solidaritas para jurnalis agar para pewarta yang hilang hingga hari kelima ini bisa ditemukan dengan selamat.

Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kendari Nursadah saat ditemui di Kendari, Sabtu malam, mengatakan bahwa doa bersama ini juga untuk memberikan penguatan kepada keluarga para jurnalis yang masih menunggu kabar dari tim pencarian.

"Tentu kami berharap lima kawan kita itu bisa ditemukan dengan selamat dan kalaupun tidak, kita menerima bisa mengetahui titik keberadaannya," ujarnya.

Ia mengatakan aksi solidaritas ini juga menginginkan para tim pencarian yang bertugas tetap berjuang mencari keberadaan para pewarta.

Selain itu, lanjutnya, doa bersama ini untuk refleksi bagi para jurnalis di Sultra agar tetap mematuhi standar operasional prosedur (SOP) sebelum ke lapangan mencari berita atau liputan berisiko seperti bencana alam.

Baca juga: Insan pers Kota Malang lantunkan doa bagi lima jurnalis hilang kontak

Nursadah menyadari profesi jurnalis memang sering kali melaksanakan liputan berisiko, namun diharapkan para pewarta tidak mengabaikan keselamatan di lapangan demi menyampaikan informasi publik.

"Ini sesuai jargon kita di wartawan dan jurnalis bahwa tidak ada berita seharga nyawa," ucapnya.

AJI sendiri terus mendorong semua pihak, baik dari perusahaan media maupun organisasi profesi jurnalis, agar menyediakan pelatihan untuk wartawan yang biasa mencari berita ke lokasi bencana.

Tentunya melalui pelatihan itu, kejadian yang dialami lima jurnalis foto ketika meliput ke lokasi bencana tidak terulang lagi di kemudian hari.

Sementara itu, Kepala Perum LKBN ANTARA Biro Sultra Zabur Karuru menyampaikan bahwa musibah yang menimpa lima jurnalis foto tentu bukan hal yang diinginkan setiap wartawan ketika mencari berita.

"Di antara berbagai profesi jurnalistik, ada satu sosok yang bekerja tanpa banyak kata namun bicara lewat setiap bidikan lensanya, yaitu pewarta foto. Ia hadir di garis depan peristiwa, kadang lebih dulu sampai daripada tim liputan lainnya, karena tugasnya menuntut satu hal yang tidak bisa diwakilkan momen yang tepat, yang hanya bisa direkam jika ia berada di sana, pada detik yang tepat pula," ujar Zabur.

Para jurnalis Sultra memegang foto pewarta yang hilang di Selat Sunda sembari memanjatkan doa. (ANTARA/La Ode Muh Deden Saputra/La Ode Ari)

Ia mengungkapkan bahwa pekerjaan pewarta foto sering dianggap sederhana, padahal di baliknya ada risiko yang sangat nyata. Mereka menembus kerumunan aksi unjuk rasa, berdiri di dekat garis evakuasi bencana, atau mendekati kawasan gunung berapi yang aktif, demi satu frame yang mampu bercerita lebih jujur daripada ribuan kata.

Kamera yang mereka bawa bukan sekadar alat kerja, melainkan mata bagi publik yang tidak bisa hadir langsung di tempat kejadian," lanjutnya.

Baca juga: Jurnalis Bandung gelar doa bersama untuk wartawan hilang kontak di GAK

Zabur juga mengenal para pewarta itu sebagai sosok yang ulet dan militan di lapangan, sehingga karya foto jurnalistik yang dihasilkan selalu berkualitas.

"Hari-hari ini, kita merasakan betul apa yang saya sampaikan tadi. Rekan kita, Bagus, Bang Arbas, Yudis, Donal, dan Daus hilang kontak sejak Senin lalu saat menuju Gunung Anak Krakatau untuk menjalankan tugas peliputan," sebutnya.

Ia menuturkan jika para jurnalis tersebut pergi dengan semangat yang sama seperti setiap pewarta foto lainnya dengan membawa pulang gambar untuk kita semua.

"Hari ini kita berkumpul bukan untuk berduka, melainkan untuk berdoa: memohon keselamatan dan pertolongan Tuhan Yang Maha Kuasa agar mereka segera ditemukan dalam keadaan selamat," tuturnya.

Ia menambahkan bahwa dirinya mengajak seluruh jurnalis untuk terus memberikan dukungan moral dan doa terbaik.Sebab, di balik setiap foto berita yang kita lihat, ada pewarta foto yang mempertaruhkan waktu, tenaga, bahkan keselamatannya.

"Semoga doa yang kita panjatkan menjadi kekuatan bagi tim SAR yang terus bekerja tanpa lelah, dan menjadi penguat bagi keluarga yang menanti kabar baik. Mari kita satukan hati dan doa, memohon agar rekan-rekan kita ini segera kembali dengan selamat kepada keluarga dan kita semua," tambah Zabur.

Untuk diketahui, lima jurnalis foto dilaporkan hilang kontak ketika meliput erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda.

Lima jurnalis tersebut yakni Muhammad Bagus Khoirunnas (Antara Foto), Arie Basuki (Merdeka.com), Yudistiro Pranoto (iNews), Firdaus Wajidi (Anadolu Agency), dan Donal Husni (freelance).

Baca juga: Tim SAR temukan jeriken minyak hari kelima pencarian jurnalis

Pewarta: La Ode Muh. Deden Saputra/La Ode Ari
Editor: Nurul Hayat
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |