Jakarta (ANTARA) - Sutradara Joko Anwar menyimpan kritik sosial dalam film ke-12 bersama rumah produksi Come And See Pictures berjudul "Ghost in the Cell" (Hantu di dalam Penjara).
Film horor komedi itu dijadwalkan menyapa penonton bioskop Indonesia pada 16 April mendatang.
Joko Anwar saat ditemui ANTARA seusai konferensi pers peluncuran cuplikan (trailer) filmnya di Jakarta, Senin, menjelaskan bahwa pemilihan latar penjara dalam film tersebut berfungsi sebagai metafora bagi kondisi sosial masyarakat.
Baca juga: Film "Ghost in the Cell" dapat sambutan antusias di Berlinale 2026
"Penjara itu kan adalah miniatur dari kehidupan, dari society (masyarakat). Ada pemerintahnya, ada petugas lapas itu kan sebagai pemerintahnya, ada warga negaranya, bapak napi-napinya," ujar Joko.
Ia menambahkan bahwa dinamika antara masyarakat dan penguasa terepresentasi sangat kuat di dalam sel penjara.
Produser Tia Hasibuan mengungkapkan bahwa proses syuting selama 22 hari berlangsung secara efektif hingga "hanya menghabiskan setengah hari" merujuk pada produktivitas tinggi di mana tim mampu menyelesaikan target harian dalam waktu yang jauh lebih singkat daripada standar syuting harian pada umumnya.
Baca juga: Penjara di "Ghost in the Cell" contoh kecil sistem di masyarakat
"Kenapa bisa cepat, mungkin yang pertama itu karena skenarionya. Skenario kita tuh ada 97 halaman... tapi jumlah scene (adegan)-nya itu cuma sedikit, cuma 40 scene," kata Tia.
Ia juga menyoroti penggunaan teknik penyutradaraan dari Joko Anwar di film itu.
"Bang Joko banyak menggunakan "long one shot", satu scene bisa 10 sampai 15 halaman, dikerjain dalam satu shot, muter-muter tuh kamera," kata Tia.
Baca juga: Joko Anwar bagikan rekam jejak pemeran "Ghost in the Cell"
Pemeran utama Abimana Aryasatya menegaskan bahwa suasana penjara dalam film akan terasa sangat nyata dan penuh sebagaimana kritik terhadap situasi Lembaga Pemasyarakatan yang asli.
"Penuh Mas. Kita betul-betul yang masuk ke dalam, masuk sampai ke luar. Sel kita memang sel yang berlantai dua itu, bisa dinaiki, penuh," tutur Abimana.
Senada dengan hal itu, sinematografer Jaisal (Ical) Tanjung yang juga ikut berakting mengatakan, "Kita set up tuh semua seluruh sel penjara, lighting-nya (pencahayaan), semua pencahayaannya kita set up supaya pemain merasa bahwa ini playground (tempat bermain) mereka".
Baca juga: Ghost in the Cell terpilih di Berlin International Film Festival 2026
Aktor muda Endy Arfian yang berperan sebagai Dimas menyatakan bahwa karakternya merupakan cerminan jurnalisme saat ini.
"Dimas ini adalah gambaran nyata tentang risiko para jurnalis di Indonesia yang sampai saat ini masih dirasakan... bagaimana kebebasan pers itu masih dipertanyakan, ada intimidasi, ada kriminalisasi," jelas Endy.
Setelah sukses melakukan world premiere (pemutaran perdana dunia) di Festival Film Internasional Berlin (Berlinale) 2026, film "Ghost in the Cell" telah diakuisisi untuk distribusi global oleh Plaion Pictures.
Baca juga: Joko Anwar paparkan dua syarat sebuah narasi layak difilmkan
Pewarta: Abdu Faisal
Editor: Siti Zulaikha
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































