Jejak kerbau, jejak peradaban

1 month ago 24

Mataram (ANTARA) - Karapan kerbau kembali menandai awal tahun 2026 di Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Arena berlumpur di Bentiu tidak sekadar menjadi tempat adu kecepatan sepasang kerbau, tetapi juga ruang pertemuan antara masa lalu dan masa depan.

Tradisi agraris yang lahir dari kebutuhan membajak sawah itu, kini tampil sebagai wajah kebudayaan yang hidup, sekaligus penopang ekonomi rakyat.

Di tengah perubahan sosial, tekanan ekonomi, dan arus modernisasi, karapan kerbau menjadi wacana penting tentang bagaimana kebudayaan lokal dipertahankan, tanpa kehilangan relevansinya.

Sepanjang beberapa tahun terakhir, Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat menempatkan karapan kerbau sebagai bagian dari kalender kegiatan daerah. Pada awal 2026, ajang ini kembali digelar secara berkelanjutan di berbagai lokasi.

Kehadirannya bukan hanya hiburan rakyat, tetapi juga penegasan bahwa tradisi lokal masih memiliki daya hidup. Ribuan warga datang, pedagang kecil membuka lapak, jasa transportasi lokal bergerak, dan sirkulasi ekonomi terbentuk di sekitar arena.

Karapan kerbau menjadi bukti bahwa kebudayaan bukan beban masa lalu, melainkan modal sosial dan ekonomi yang nyata.

Di balik kemeriahan itu, terdapat pertanyaan mendasar. Sejauh mana karapan kerbau dilihat sebagai agenda strategis, bukan sekadar peristiwa seremonial.

Tahun 2026 menghadirkan tantangan baru. Ketika daerah berlomba memperkuat ekonomi berbasis pariwisata dan ekonomi kreatif, tradisi, seperti karapan kerbau, membutuhkan pendekatan yang lebih terencana agar tidak berhenti sebagai tontonan musiman.


Warisan agraris

Karapan kerbau atau barapan kebo lahir dari kehidupan agraris masyarakat Sumbawa. Tradisi ini berakar pada proses membajak sawah di tanah liat yang berat, ketika kerbau dipacu untuk menggemburkan lahan sebelum musim tanam.

Dari kebutuhan praktis itu tumbuh ritual, aturan, dan nilai kebersamaan. Karapan kerbau mengajarkan kerja sama, sportivitas, dan penghormatan pada alam.

Di Sumbawa Barat, tradisi ini tetap hidup karena masih terhubung dengan identitas masyarakat. Kerbau tidak dipandang semata sebagai hewan ternak, tetapi sebagai bagian dari siklus hidup pertanian.

Ketika karapan digelar, masyarakat lintas desa dan kecamatan berkumpul. Arena menjadi ruang silaturahim, tempat cerita lama dan baru bertemu. Modal sosial inilah yang menjadikan karapan kerbau lebih dari sekadar lomba.

Penyelenggaraan karapan kerbau pada awal 2026 mampu menggerakkan ekonomi lokal, terutama pelaku UMKM. Pedagang makanan, minuman, kerajinan, hingga jasa parkir dan transportasi merasakan dampaknya.

Ini menegaskan bahwa tradisi budaya memiliki efek ekonomi berlapis, meski sering luput dari perhitungan kebijakan formal.

Bersamaan dengan itu, warisan agraris ini juga menghadapi tekanan. Perubahan pola beternak, pergeseran minat generasi muda, serta dominasi ternak sapi yang dianggap lebih praktis berpotensi menggerus populasi kerbau.

Jika tidak diantisipasi, karapan kerbau berisiko kehilangan basis utamanya, yakni keberlanjutan ternak dan pengetahuan lokal yang menyertainya.

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |