Moskow (ANTARA) - Italia menolak masuk 31 orang, termasuk delapan warga Maroko, dan menangkap enam orang setelah kembali menerapkan kontrol perbatasan dengan Spanyol, kata Menteri Luar Negeri sekaligus Wakil Perdana Menteri Italia Antonio Tajani.
Menurut laporan kantor berita RIA Novosti dari Moskow, Selasa, pengetatan kontrol perbatasan tersebut dilakukan di tengah krisis migran yang terjadi di Ceuta, kota otonom milik Spanyol di pesisir pantai Afrika Utara yang berbatasan langsung dengan Maroko.
"Selama sebulan terakhir, 31 keputusan penolakan masuk telah dikeluarkan di perbatasan laut dan bandara, delapan di antaranya terhadap warga negara Maroko. Enam orang telah ditangkap. Jumlah itu cukup banyak," kata Tajani dalam wawancara dengan surat kabar Corriere della Sera.
Pada Senin, Italia memperpanjang penangguhan sementara penerapan Perjanjian Schengen bagi penumpang yang datang dari Spanyol selama 15 hari lagi.
Tajani mengatakan keputusan itu bersifat sementara dan tidak ditujukan terhadap Spanyol maupun negara lain.
Dia menambahkan bahwa kebijakan yang diberlakukan sejak 1 Agustus itu bertujuan untuk melindungi keamanan nasional. Menurut dia, "ancaman jihadisme tidak boleh diremehkan".
"Saya ingin mengingatkan bahwa kami telah berhasil mengurangi imigrasi ilegal di negara kami lebih dari 60 persen," kata Tajani.
Pada akhir Juli, Ceuta mencatat kedatangan migran dalam jumlah besar. Kementerian Dalam Negeri Spanyol sebelumnya menyebut sekitar 72.000 orang migran telah memasuki wilayah tersebut dari Maroko. Sebagian besar dari mereka kemudian dikembalikan ke Maroko.
Sebagai respons terhadap krisis migrasi tersebut, Italia menerapkan pemeriksaan tambahan terhadap penumpang dan kendaraan yang datang dari Spanyol.
Sumber: Sputnik/RIA Novosti
Baca juga: Italia, Denmark tentang migrasi ilegal tak terkendali ke Eropa
Baca juga: Italia usul Uni Eropa dirikan pusat detensi imigran ilegal di Afrika
Penerjemah: Katriana
Editor: Rahmad Nasution
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
















































