Iran minta IAEA hentikan upaya tekanan politik saat bahas isu nuklir

3 hours ago 1

Teheran (ANTARA) - Iran menyatakan agar Badan Energi Atom Internasional (International Atomic Energy Agency/IAEA) harus menghindari upaya memberikan tekanan terhadap Teheran apabila ingin berperan dalam penyelesaian diplomatik isu nuklir Iran.

Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, Sabtu, mengatakan bahwa badan pengawas nuklir PBB itu tidak seharusnya mengubah laporan teknis menjadi alat tekanan politik.

"Jika badan tersebut ingin menjadi bagian dari solusi diplomatik, maka badan itu harus menahan diri untuk tidak mengubah laporan teknis menjadi alat tekanan politik," tulis Gharibabadi melalui platform X.

Ia juga menambahkan bahwa Direktur Jenderal IAEA, Rafael Grossi, hingga saat ini belum mengecam serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap fasilitas nuklir Iran.

Menurut Gharibabadi, badan tersebut tidak dapat melaporkan dampak serangan tersebut, menuntut Iran menanggung konsekuensi teknis dan politiknya, namun tetap diam mengenai pihak yang melakukan serangan.

Sebelumnya pada 28 Februari, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan bersama terhadap sejumlah sasaran di Iran, termasuk di Teheran, yang mengakibatkan kerusakan serta korban sipil. Iran kemudian membalas dengan menyerang wilayah Israel dan fasilitas militer Amerika Serikat di Timur Tengah.

Kemudian pada 7 April, Washington dan Teheran mengumumkan gencatan senjata. Namun, perundingan lanjutan yang berlangsung di Islamabad berakhir tanpa menghasilkan terobosan.

Pada Juni 2025, Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap fasilitas nuklir Iran dalam operasi yang disebut Operation Midnight Hammer.

Untuk mencapai kesepakatan dengan Iran, Washington menuntut pemindahan material nuklir dan pengabaian ambisi Teheran untuk memiliki senjata nuklir, tuduhan yang selama ini dibantah oleh Iran.

Sumber: Sputnik/RIA Novosti-OANA

Baca juga: IAEA sebut AS dan Iran segera capai kesepakatan soal nuklir

Baca juga: Iran minta asetnya yang dibekukan cair dalam kesepakatan dengan AS

Penerjemah: Primayanti
Editor: M Razi Rahman
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |