Sipirok (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan (Pemkab Tapsel), Sumatera Utara tetap ingin jembatan permanen di atas Sungai Garoga sebagai penghubung daerah itu dengan Tapanuli Tengah dan Kota Sibolga karena sangat strategis untuk distribusi barang, jasa dan orang.
“Saat ini sudah dibangun dua Jembatan Bailey di lokasi itu tapi ini sementara dan ada batasan hanya truk di bawah tonase 25 ton yang boleh lewat ,” kata Bupati Tapanuli Selatan Gus Irawan Pasaribu di Sipirok, Kamis.
Ia mengatakan sudah melaporkan hal ini kepada Ketua Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera yang juga Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian terkait kebutuhan jembatan permanen yang mampu menahan beban mobil di atas 30 ton.
Ia mencontohkan kebutuhan jembatan permanen sangat vital karena distribusi gas bersubsidi maupun gas nonsubsidi diangkut dari Kota Padang menggunakan kapal menuju Pelabuhan Sibolga.
Kapal ini berlayar dulu ke Nias baru ke Sibolga dan diangkut melalui jalur darat ke Tapanuli Selatan melalui jalur tersebut dan harusnya diangkut mobil dengan kapasitas besar.
Baca juga: Pemkab: Empat jembatan dan 116 KM jalan Aceh Timur-Gayo Lues rusak
Jembatan ini bertujuan agar truk pengangkut dengan bobot di atas 30 ton dapat lewat mengangkut gas tersebut menuju Tapanuli Selatan.
Sementara itu, lanjutnya, saat Ramadhan 1447 Hijriah penggunaan gas diprediksi meningkat karena aktivitas masyarakat memasak di sepanjang bulan suci hingga Lebaran meningkat tajam.
Pengendara melintas di Jembatan Bailey yang dibangun di atas aliran Sungai Garoga sebagai penghubung Kabupaten Tapanuli Selatan dan Tapanuli Tengah, Kamis (29/1/2026). ANTARA/Mario Sofia Nasution“Jadi saya khawatir ada masalah di sana, karena itu kita berharap jembatan permanen dapat selesai dalam waktu yang tidak lama,” kata dia.
Bupati juga menyatakan terima kasih kepada TNI yang sudah membangun Jembatan Baily yang memiliki peran penting dalam menyatukan jalur tersebut.
“Kami sangat berterima kasih dengan kehadiran jembatan ini tapi memang kebutuhan jembatan permanen juga menjadi prioritas,” katanya.
Baca juga: TNI AD bangun jembatan modular hubungkan tiga kecamatan di Aceh Utara
Sebelumnya, pemerintah memperkirakan total anggaran rehabilitasi dan rekonstruksi pascabanjir di Sumatera sekitar Rp50 triliun lebih, untuk seluruh kebutuhan pemulihan, termasuk infrastruktur seperti jalan dan fasilitas umum lainnya.
Sementara itu, ekonom memperkirakan bahwa biaya rekonstruksi pascabanjir di Sumatera berkisar antara Rp50 triliun hingga Rp70 triliun untuk tiga provinsi terdampak yakni Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat.
Sebelumnya, Kementerian Pekerjaan Umum menyebut, jalan nasional yang terdampak bencana sudah kembali tersambung dan kini masuk tahap rekonstruksi permanen di sejumlah daerah.
Semua ruas jalan dan jembatan nasional yang sebelumnya terputus kini dapat dilalui, meskipun banyak masih dalam perbaikan lanjutan, terutama di wilayah kecamatan dan desa.
Pemerintah Provinsi Sumatera Utara juga telah mengalokasikan sekitar Rp430 miliar untuk upaya pemulihan pascabanjir (tidak hanya jalan, tetapi seluruh kebutuhan pascabencana).
Baca juga: Jembatan penghubung desa terisolasi di Gayo Lues rampung pekan ini
Pewarta: Mario Sofia Nasution
Editor: Edy Sujatmiko
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































