Jakarta (ANTARA) - Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Perdagangan (Kemendag) menggelar temu bisnis (business matching) bersama Organisasi Perdagangan Luar Negeri Jepang (JETRO) Jakarta untuk mendukung perluasan aktivitas perdagangan bagi kedua negara.
“Pada kesempatan ini kami mengajak partner atau mitra dari Jepang untuk bisa lebih berkolaborasi dengan para supplier kita di Indonesia, supaya bisa bekerja sama lebih erat dan mengangkat (sejumlah) sektor (perdagangan) kita ini menjadi supplier (bagi) dunia,” kata Direktur Jenderal Direktorat Promosi Ekspor Nasional Kemendag Fajarini Puntodewi di Jakarta, Selasa.
Adapun tujuan lainnya dari acara antara perusahaan dan peritel (retailer) Jepang di Indonesia dan produk lokal Indonesia ini adalah mempertemukan perusahaan lokal yang dibutuhkan oleh perusahaan Jepang berdasarkan kategori yang diperlukan/diinginkan perusahaan Jepang.
Lebih jauh, Menurut Fajarini, untuk dapat menciptakan keseimbangan dalam menjual produk lokal dan produk impor, serta agar dapat menjual produk lokal Indonesia kualitas ekspor ke pasar luar negeri.
Baca juga: KKP fasilitasi UPI peroleh tarif nol persen ekspor tuna ke Jepang
Adapun bentuk dukungan dan kerja sama yang diberikan oleh kedua instansi ini adalah melalui kunjungan langsung ke lokasi ruang pameran produk lokal Indonesia serta melalui penyediaan database daftar perusahaan lokal yang dimiliki oleh Kemendag.
Ia mengatakan, sejumlah sektor perdagangan yang menjadi fokus utama dalam temu bisnis ini antara lain furnitur dan peralatan rumah tangga, perawatan tubuh, dan kosmetik atau kecantikan.
“Selain sektor otomotif, kita melihat masih banyak potensi di sektor lainnya, seperti sektor furniture, home living, wellness, body care and beauty, yang merupakan potensi yang bisa kita kembangkan juga seperti sektor (otomotif) tadi untuk menjadi lebih besar secara bersama-sama,” ujar Fajarini.
Pewarta: Arnidhya Nur Zhafira
Editor: Zaenal Abidin
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































