Jakarta (ANTARA) - Silaturahim saat hari raya melampaui sekadar tradisi tahunan, karena di balik aspek kulturalnya, momentum ini merupakan instrumen strategis dalam memperkokoh ketahanan nasional yang berkelanjutan.
Selain menjadi jeda untuk mengisi kembali tangki emosi yang kerap tergerus oleh rutinitas, pertemuan fisik dan interaksi langsung memiliki kedalaman energi yang tidak dapat digantikan oleh teknologi komunikasi digital mana pun.
Silaturahim menjadi ruang untuk menemukan kembali jati diri dalam ekosistem terkecil bernama keluarga. Kualitas hubungan yang terjalin bukan sekadar komoditas sosial, melainkan fondasi dasar bagi pembangunan karakter.
Fenomena ini sejalan dengan agenda pemerintah yang menempatkan unit keluarga sebagai pilar utama dalam mencetak sumber daya manusia (SDM) berkualitas.
Hal ini senada dengan yang disampaikan Deputi bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Keluarga dan Kependudukan, Kementerian Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) Woro Srihastuti Sulistyaningrum bahwa keluarga sebagai unit terkecil dalam masyarakat memiliki peran penting dalam mendorong terciptanya ketahanan dan resiliensi nasional.
Jika keluarga bahagia, masyarakat sejahtera, maka negara juga akan kuat dan memiliki kohesi nasional yang semakin kokoh. Karena itulah, momen Hari Raya Idul Fitri menjadi pijakan untuk membangun ketahanan nasional. Mulai dari memperkuat hubungan antaranggota keluarga, sesama keluarga, bahkan di tingkat komunitas dan masyarakat.
Ibarat merajut selembar kain, keluarga adalah benang-benang utama yang kekuatannya akan menentukan seberapa kokoh jalinan sosial dalam menghadapi berbagai terpaan.
Dalam konteks agenda pembangunan nasional, penguatan kohesi sosial melalui momen ini menjadi manifestasi nyata dari aktivasi delapan fungsi keluarga untuk membangun ketahanan dari unit terkecil masyarakat.
Kedelapan fungsi tersebut meliputi fungsi keagamaan, sosial budaya, cinta kasih, perlindungan, reproduksi, sosialisasi dan pendidikan, ekonomi, serta pembinaan lingkungan.
Woro Srihastuti mengatakan keluarga memiliki peran vital dalam mendorong terciptanya ketahanan dan resiliensi nasional. Secara fungsi sosial dalam keluarga, silaturahim menghubungkan kembali relasi antaranggota keluarga yang mungkin sudah lama tidak bertemu, termasuk juga dengan komunitas.
Penjelasan itu memperlihatkan bahwa silaturahim berdampak pada peningkatan kedekatan emosional antaranggota keluarga dan jalinan sosial dengan masyarakat yang lebih luas. Langkah ini menjadi jembatan untuk mengembalikan interaksi bermakna di tengah kesibukan era digital, sekaligus memperkuat dukungan sosial di lingkungan masyarakat.
Sementara dari sisi fungsi budaya, dengan adanya silaturahmi semakin memperkuat tradisi untuk saling berbagi, saling berkunjung, dan tentunya akan mendorong kohesi sosial yang semakin kuat di tingkat lingkungan, masyarakat dan negara.
Selain itu, adanya silaturahim akan menjaga kesinambungan nilai antargenerasi dan menumbuhkan rasa memiliki terhadap komunitas yang pada akhirnya menjadi fondasi bagi ketahanan budaya.
Mengisi energi
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































