Jakarta (ANTARA) - Guru Besar Psikologi Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta Prof Abdul Mujib membagikan tips bagi petugas haji untuk mengurai masalah jamaah haji di Tanah Suci.
Menurut Mujib, menghadapi jamaah haji yang sedang emosional atau memiliki segudang keluhan menjadi tantangan sehari-hari bagi petugas haji di lapangan.
Baca juga: Pemerintah Indonesia dan Saudi cari solusi selesaikan masalah Nusuk
"Seringkali jamaah datang dengan membawa banyak masalah sekaligus, bisa lima atau lebih keluhan dalam satu waktu. Petugas haji tentunya tidak mungkin menyelesaikan semua masalah tersebut secara bersamaan," kata Mujib setelah menjadi pemateri pendidikan dan latihan (Diklat) calon Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) 1447 H/2026 M di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Senin
Menurut Mujib, kuncinya adalah menemukan "akar masalah" yang paling dominan. "Kita tidak mungkin bisa menyelesaikan seluruhnya. Gunakan teknik perbandingan. Misalnya, jamaah punya lima masalah. Tanya saja, masalah kelima dengan keempat, mana yang lebih berat? Jika keempat lebih berat, abaikan yang kelima," ujar Mujib.
Proses eliminasi tersebut terus dilakukan secara berurutan. Setelah menemukan masalah terberat antara nomor empat dan lima, bandingkan lagi dengan masalah ketiga, kedua, hingga yang pertama.
"Dua dengan yang pertama berat mana? Oh, ternyata yang pertama paling penting. Nah, ketika sudah tahu yang paling penting ini, itulah yang perlu kita bantu selesaikan," ujar Mujib.
Teknik tersebut membantu petugas untuk fokus pada solusi yang paling berdampak bagi jamaah. Seringkali, jika satu masalah utama terselesaikan, masalah-masalah kecil lainnya akan mereda dengan sendirinya atau menjadi tidak relevan lagi bagi jamaah tersebut.
Baca juga: Menkes Saudi paparkan antisipasi berbagai masalah haji berjalan baik
Baca juga: Timwas DPR siap tindak lanjuti temuan masalah pelayanan Haji 2025
Mujib mengingatkan batasan kompetensi petugas. Jika masalah utama tersebut ternyata berkaitan dengan gangguan kejiwaan berat atau penyakit fisik serius, petugas tidak boleh memaksakan diri menangani sendiri.
"Kalau tidak bisa menyelesaikan secara utuh, dia lah yang kemudian men-driver (mengarahkan) ke ahlinya, ke psikolognya atau kalau fisik ya ke dokter," kata Mujib.
Metode tersebut diharapkan menjadi "senjata" praktis bagi petugas haji di berbagai layanan saat menghadapi jamaah yang sedang dalam tekanan tinggi.
Pewarta: Citro Atmoko
Editor: Endang Sukarelawati
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































