Jakarta (ANTARA) - Rektor Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor KH Hamid Fahmy Zarkasyi menyatakan sistem pendidikan pesantren yang telah berakar berabad-abad di Nusantara merupakan jawaban atas krisis pendidikan holistik yang selama ini masih menjadi permasalahan di Indonesia dan dunia.
Menurut Hamid, sejarah sekularisasi di Barat sejak era Renaissance telah memisahkan ilmu pengetahuan dari nilai-nilai agama. Pendekatan Barat yang terlalu menitikberatkan pada aspek kognitif demi pertumbuhan industri terbukti melahirkan krisis akhlak dan soft skill (keterampilan non-teknis) pada peserta didik.
"Banyak tokoh Barat seperti Pestalozzi, Fröbel, hingga John Dewey mencoba mengintegrasikan kepala, tangan, dan hati (head, heart, and hand). Namun, model pendidikan mereka gagal mengimbangi dominasi aspek kognitif. Sebaliknya, pesantren justru telah mempraktikkan konsep pendidikan kehidupan ini secara berkelanjutan (sustainable) selama ratusan tahun," kata Hamid dalam Global International Holistic Education Summit (GIHES) di Jakarta, Sabtu.
Hamid menegaskan bahwa sistem holistik tidak hanya terletak pada teori di kelas, tetapi harus dipraktikkan dalam kehidupan pesantren secara langsung. Ia juga menekankan bahwa keunggulan mutlak sistem pendidikan pesantren terletak pada kemampuannya menyatukan kurikulum formal, nonformal, dan informal secara terpadu dalam ekosistem asrama 24 jam.
Baca juga: Ketua MPR minta ponpes didik karakter santri dengan tradisi Indonesia
"Model pendidikan holistik yang menyatukan peran sekolah, keluarga, dan masyarakat dalam satu lingkungan ini tergolong unik di tingkat global karena hanya ditemukan di dunia Melayu (Nusantara) dan tidak dijumpai di negara-negara lain seperti Arab, India, maupun Pakistan," ujarnya.
Melihat keberhasilan pesantren yang mandiri dan bertahan lebih dari satu abad tanpa bergantung pada bantuan asing, Hamid mendorong agar sistem pendidikan pesantren diakui secara nasional sebagai sistem pendidikan asli Indonesia. Model ini juga sangat layak ditawarkan ke panggung internasional.
"Sistem pendidikan di pesantren benar-benar holistik dan dapat kita tawarkan kepada dunia internasional sebagai alternatif pendidikan manusia seutuhnya, demi menciptakan perdamaian global. Ini adalah hadiah Indonesia untuk dunia," tuturnya.
Baca juga: Hoaks! Keracunan MBG di Sidoarjo sebabkan 12 orang meninggal
Pewarta: Lintang Budiyanti Prameswari
Editor: Sambas
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
















































