Dubes Pakistan: D-8 berpeluang bertransformasi di bawah RI

2 hours ago 3

Jakarta (ANTARA) - Duta Besar Pakistan untuk Indonesia Zahid Hafeez Chaudhri menilai D-8 berpeluang bertransformasi di bawah kepemimpinan Indonesia periode 2026–2027.

"Indonesia memiliki skala ekonomi dan kredibilitas diplomatik, serta visi untuk memajukan organisasi ini. Kami optimistis D-8 akan semakin kuat di bawah kepemimpinan Indonesia," kata Chaudhri dalam wawancara dengan ANTARA di Jakarta, Sabtu (11/4).

Ia mengatakan pembangunan menjadi hal penting bagi negara anggota Developing Eight (D-8).

Menurutnya, organisasi tersebut berperan dalam memperkuat kerja sama ekonomi dan perdagangan antaranggota.

"Kita perlu meningkatkan perdagangan intra-D-8," ujarnya.

Chaudhri menyebutkan produk domestik bruto (PDB) gabungan D-8 mencapai sekitar 5 triliun dolar AS (Rp85.446,5 triliun).

Namun, perdagangan intra-D-8 masih relatif rendah, yakni sekitar 156 miliar dolar AS.

Ia menilai D-8 perlu menetapkan target perdagangan yang terukur serta menyusun rencana aksi untuk memperkuat integrasi ekonomi.

Selain itu, ia menekankan pentingnya kerja sama di sektor ekonomi biru, transisi hijau, dan energi terbarukan.

Menurutnya, ekonomi anggota D-8 tidak hanya perlu tumbuh, tetapi juga semakin terintegrasi.

"Keterkaitan bisnis dan rantai pasokan terintegrasi sangat penting. Kita tidak hanya perlu meningkatkan perdagangan, tetapi juga kualitasnya," katanya.

Ia juga menekankan pentingnya pemanfaatan investasi secara strategis untuk mendorong penggunaan modal yang lebih efektif.

Indonesia memegang keketuaan D-8 periode 2026–2027 dengan tema "Menavigasi Pergeseran Global: Memperkuat Kesetaraan, Solidaritas, dan Kerja Sama untuk Kemakmuran Bersama."

D-8 merupakan organisasi kerja sama ekonomi yang beranggotakan Indonesia, Bangladesh, Mesir, Iran, Malaysia, Nigeria, Pakistan, dan Turki.

Azerbaijan menjadi anggota terbaru yang bergabung pada Desember 2024.

Indonesia dan Pakistan menjalin hubungan diplomatik sejak April 1950.

Kedua negara juga merupakan penggagas Konferensi Asia Afrika di Bandung pada 1955 bersama India, Sri Lanka, dan Myanmar.

Baca juga: D8: Pakistan, Turki, Mesir terlibat aktif dalam upaya mediasi TimTeng

Baca juga: Indonesia tunda pelaksanaan KTT D-8

Pewarta: Cindy Frishanti Octavia
Editor: Anton Santoso
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |