Jakarta (ANTARA) - Kemajuan teknologi telekomunikasi telah mengubah cara kita berkomunikasi, bekerja, dan bersosialisasi.
Internet, ponsel pintar, serta berbagai platform digital membuat kita selalu terhubung. Namun, di balik kemudahan ini, muncul fenomena yang mengkhawatirkan: ketergantungan digital.
Kita terbiasa memeriksa notifikasi setiap beberapa menit, merasa cemas jika tidak segera membalas pesan, dan sulit melepaskan diri dari layar. Kondisi ini bukan hanya memengaruhi produktivitas, tetapi juga kesehatan mental. Di sinilah konsep digital detox menjadi relevan.
Mengapa penting
Paparan berlebihan terhadap media sosial dan komunikasi digital dapat memicu stres dan rasa cemas. Tekanan untuk selalu online, merespons pesan dengan cepat, dan mengikuti arus informasi membuat banyak orang merasa lelah secara mental.
Cal Newport dalam Digital Minimalism menekankan bahwa solusinya bukan menolak teknologi, melainkan memilih secara sadar aktivitas digital yang benar‑benar mendukung nilai pribadi, sehingga kita "dengan senang hati melewatkan sisanya".
Nicholas Carr di The Shallows juga mengingatkan bahwa cara internet menyajikan informasi sebagai arus cepat membuat kita cenderung mencari "butiran stimulasi" yang dangkal, yang pada gilirannya mengikis kapasitas kita untuk hening dan kontemplatif, dua kondisi yang esensial bagi kesehatan psikologis.
Multitasking digital menguras energi otak dan menurunkan kemampuan fokus. Setiap kali kita berpindah dari satu aplikasi ke aplikasi lain, otak harus bekerja ekstra untuk menyesuaikan diri. Carr menggambarkan transisi ini sebagai pergeseran dari "menyelam di lautan kata" menjadi "meluncur di permukaan seperti jet ski," sebuah metafora tentang berkurangnya kedalaman perhatian saat kita terus berpindah tugas.
Nir Eyal dalam Indistractable menambahkan perspektif psikologis bahwa distraksi sering kali bermula dari ketidaknyamanan internal (bosan, cemas, gelisah) dalam mengakses suatu aplikasi. Dengan mengurangi distraksi ini, digital detox membantu memulihkan konsentrasi dan mengembalikan fokus pada hal‑hal yang benar‑benar penting, baik dalam pekerjaan maupun kehidupan pribadi.
Baca juga: Digital detox: menjaga keseimbangan dunia maya dan nyata
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































