Manokwari (ANTARA) - Dinas Kesehatan Kabupaten Manokwari, Papua Barat mencatat sebanyak 5.914 anak usia sekolah telah terlayani program Cek Kesehatan Gratis (CKG) dari total sasaran 8.537 anak.
Plt Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Manokwari Marthen Rantetampang di Manokwari, Senin, mengatakan layanan CKG bagi anak sekolah menyasar kelompok usia 7–18 tahun sebagai bagian dari upaya deteksi kondisi kesehatan sejak usia dini.
“Dari sasaran 8.537 anak sekolah di Manokwari, sebanyak 5.914 anak atau 70 persen sudah terlayani CKG. Capaian ini terus kami tingkatkan melalui berbagai strategi di lapangan,” katanya.
Ia menjelaskan, untuk mengejar capaian layanan CKG di lingkungan sekolah, Dinas Kesehatan Manokwari terus menggencarkan promosi dan sosialisasi.
Baca juga: Menkes: Mulai 2026, CKG sertakan skrining kusta percepat eliminasi
Pihaknya juga menerapkan pola jemput bola dengan memperbanyak layanan di luar fasilitas kesehatan, terutama melalui puskesmas.
Ia mengatakan, pelaksanaan CKG di sekolah dilakukan dengan koordinasi antara pihak sekolah dan petugas kesehatan.
Jika terdapat kegiatan di sekolah, guru akan menginformasikan kepada puskesmas terdekat agar petugas dapat langsung melakukan pemeriksaan kesehatan kepada siswa.
Selain menyasar anak sekolah, Dinkes Manokwari juga melaksanakan CKG bagi masyarakat umum. Namun dari total jumlah penduduk Kabupaten Manokwari sekitar 204 ribu jiwa, baru sekitar 10 ribu warga yang memanfaatkan layanan tersebut.
“Untuk masyarakat umum, kami menjangkau kelompok-kelompok masyarakat di ruang publik, seperti kegiatan di gereja, masjid, dan lokasi keramaian lainnya,” ujarnya.
Baca juga: CKG di Pasaman Barat telah menjangkau 358.390 orang
Marthen mengatakan, tantangan utama pelaksanaan CKG di Manokwari masih berkutat pada rendahnya kesadaran masyarakat untuk memeriksakan kesehatan saat dalam kondisi sehat.
Sebagian masyarakat masih beranggapan mendatangi fasilitas kesehatan hanya perlu dilakukan ketika sudah merasakan gejala sakit.
Padahal, kata dia, CKG merupakan hak setiap warga negara yang difasilitasi negara untuk melakukan deteksi dini penyakit setidaknya satu kali dalam setahun, sehingga potensi penyakit dapat diketahui lebih awal meskipun belum menimbulkan gejala.
Selain faktor kesadaran masyarakat, pelaksanaan CKG juga terkendala ketersediaan bahan medis habis pakai (BMHP). Sejumlah BMHP yang diusulkan sejak tahun lalu hingga kini belum seluruhnya diterima dari Kementerian Kesehatan.
“Programnya ada, tenaga kesehatan juga siap, tetapi jika sarana prasarana seperti BMHP tidak tersedia tepat waktu, pelaksanaannya menjadi tidak maksimal,” ujarnya.
Baca juga: Dinkes Papua Barat gencarkan CKG melalui pemanfaatan ruang publik
Pewarta: Ali Nur Ichsan
Editor: Riza Mulyadi
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































