Jakarta (ANTARA) - Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menilai prospek pembiayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) pada 2026 diperkirakan masih menghadapi sejumlah tantangan.
Bhima memaparkan tantangan tersebut antara lain rendahnya permintaan dalam negeri khususnya di kelompok menengah, efisiensi anggaran daerah, risiko pemulihan bencana yang masih berlangsung di wilayah Sumatera, serta instabilitas geopolitik yang mempengaruhi UMKM berorientasi ekspor.
“Penyaluran kredit bank cenderung lebih hati-hati meski sudah mendapat kucuran likuiditas Rp200 triliun lebih sepanjang 2025,” ujarnya saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Senin.
Bhima menilai prospek pembiayaan UMKM pada 2026 akan sangat bergantung pada kebijakan penurunan suku bunga kredit di luar Kredit Usaha Rakyat (KUR) agar biaya pembiayaan lebih terjangkau.
Baca juga: Penurunan suku bunga kredit di luar KUR dinilai mendesak untuk UMKM
Selain itu, perluasan penerima KUR dan optimalisasi program berskala besar seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menyerap hingga 90 persen produk UMKM lokal menurutnya juga menjadi langkah penting untuk menjaga keberlanjutan usaha kecil dan menengah.
“Perluasan penerima KUR harus konsisten dilakukan. Penurunan suku bunga kredit di luar KUR juga mendesak agar beban biaya bunga (cost of financing) bisa terjangkau UMKM,” kata dia menambahkan.
Menurut data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Januari 2026, kredit perbankan pada November 2025 tumbuh 7,74 persen (year-on-year/yoy) menjadi Rp8.314,48 triliun, meningkat dibandingkan Oktober 2025 yang tumbuh 7,36 persen.
Pertumbuhan terutama dikontribusikan oleh sektor pengangkutan dan pergudangan sebesar 18,33 persen, pengadaan listrik, gas, dan air 21,83 persen, industri pertambangan 11,0 persen, serta konstruksi 8,14 persen.
Baca juga: BSI: Pembiayaan UMKM tumbuh solid, capai Rp51,78 T per November 2025
Namun, dari sisi debitur, kredit UMKM justru terkontraksi 0,64 persen (yoy), berbeda dengan kredit korporasi yang tumbuh 12,06 persen (yoy).
Kredit Investasi mencatatkan pertumbuhan tertinggi sebesar 17,98 persen (yoy), sementara Kredit Konsumsi tumbuh 6,67 persen (yoy) dan Kredit Modal Kerja 2,04 persen (yoy).
Di sisi lain, Dana Pihak Ketiga (DPK) melanjutkan pertumbuhan tinggi mencapai 12,03 persen (yoy) menjadi Rp9.899,07 triliun.
Penurunan suku bunga perbankan juga berlanjut, dengan rerata tertimbang suku bunga kredit rupiah turun 26 basis poin (yoy) menjadi 8,97 persen pada November 2025, terutama didorong penurunan suku bunga kredit produktif.
Baca juga: OJK terbitkan aturan baru, kecualikan debitur UMKM dari syarat agunan
Pewarta: Shofi Ayudiana
Editor: Abdul Hakim Muhiddin
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































