Cara membedakan foto dan video AI dari konten asli

7 hours ago 4

Jakarta (ANTARA) - Perkembangan kecerdasan buatan (AI) membuat foto dan video semakin realistis sehingga sulit dibedakan dari konten asli. Masyarakat perlu lebih teliti memeriksa sumber, konteks dan jejak digital sebelum mempercayai atau menyebarkannya.

Teknologi AI generatif kini mampu membuat gambar dan video dengan detail yang sangat menyerupai kenyataan. Wajah manusia, suara, latar tempat, gerakan hingga kondisi tertentu dapat dibuat atau dimodifikasi menggunakan teknologi tersebut.

Kondisi ini membuat kemampuan memeriksa keaslian konten semakin penting, terutama ketika foto atau video digunakan untuk menyebarkan informasi mengenai peristiwa yang sedang terjadi.

Jangan hanya melihat dari tampilan

Salah satu cara awal untuk memeriksa foto atau video adalah memperhatikan detail yang terlihat tidak wajar.

Pada sejumlah konten hasil AI, kejanggalan dapat terlihat pada bentuk tangan dan jari, tulisan, pantulan, bayangan, ekspresi wajah atau gerakan bibir. Namun, tanda-tanda tersebut semakin sulit ditemukan karena kualitas teknologi AI terus berkembang.

Karena itu, konten yang terlihat sangat realistis tidak otomatis berarti benar-benar terjadi.

Periksa sumber konten

Langkah berikutnya adalah mencari tahu dari mana foto atau video tersebut berasal.

Jika sebuah video mengklaim memperlihatkan kejadian besar, periksa apakah peristiwa serupa juga diberitakan oleh media terpercaya atau dikonfirmasi lembaga resmi.

Perhatikan siapa yang pertama kali mengunggah konten, kapan diunggah dan apakah keterangan yang menyertainya sesuai dengan peristiwa yang diklaim.

Foto atau video yang hanya beredar melalui akun anonim tanpa sumber yang jelas sebaiknya tidak langsung dipercaya.

Baca juga: X tangguhkan pendapatan kreator konten perang buatan AI tanpa label

Lakukan pencarian gambar

Untuk foto yang mencurigakan, pencarian gambar terbalik dapat membantu mengetahui apakah gambar tersebut pernah muncul sebelumnya di internet.

Cara ini berguna untuk menemukan foto lama yang digunakan kembali dengan keterangan atau konteks berbeda. Sebuah foto yang diklaim sebagai peristiwa terbaru bisa saja sebenarnya berasal dari kejadian beberapa tahun sebelumnya.

Namun, tidak ditemukannya gambar yang sama bukan berarti foto tersebut otomatis asli. Konten baru atau konten yang belum banyak tersebar mungkin belum muncul dalam hasil pencarian.

Perhatikan metadata dan jejak digital

Metadata dapat memberikan informasi tambahan mengenai sebuah file, seperti perangkat yang digunakan, waktu pembuatan atau informasi teknis lainnya.

Data tersebut dapat menjadi petunjuk ketika memeriksa sebuah foto atau video. Namun, metadata tidak boleh dijadikan satu-satunya bukti karena informasi di dalamnya dapat hilang atau berubah ketika file diproses dan dibagikan melalui platform tertentu.

Pemeriksaan juga dapat dilakukan dengan melihat riwayat publikasi dan perubahan yang terjadi pada konten.

Kenali content credentials

Teknologi yang kini semakin berkembang untuk membantu memeriksa asal-usul konten adalah Content Credentials.

Teknologi ini memungkinkan informasi mengenai proses pembuatan dan perubahan sebuah konten dicatat secara digital. Pengguna dapat mengetahui apakah sebuah foto dibuat menggunakan kamera, diedit dengan perangkat tertentu atau melibatkan AI.

Content Credentials menjadi salah satu pendekatan yang dikembangkan industri teknologi untuk memberikan informasi mengenai riwayat sebuah konten secara lebih transparan.

Namun, tidak semua foto dan video sudah memiliki fitur tersebut. Jadi, tidak adanya Content Credentials bukan berarti konten tersebut pasti palsu.

Baca juga: Pemerintah kaji pengaturan konten buatan AI dalam revisi UU Hak Cipta

Ada juga watermark AI

Sejumlah perusahaan teknologi menggunakan watermark digital untuk membantu mengenali konten yang dibuat menggunakan AI.

Google, misalnya, menggunakan SynthID untuk menyisipkan tanda digital yang tidak terlihat oleh mata manusia pada sejumlah konten yang dibuat menggunakan teknologi AI. Tanda tersebut dapat digunakan untuk membantu proses verifikasi.

Pada 2026, teknologi tersebut telah diperluas untuk membantu pemeriksaan gambar dan video melalui layanan tertentu.

Meski demikian, tidak adanya watermark juga tidak dapat dijadikan bukti bahwa sebuah konten merupakan hasil kamera atau rekaman asli.

Jangan terlalu percaya AI detector

Saat ini tersedia berbagai alat yang mengklaim mampu menentukan apakah sebuah foto atau video dibuat menggunakan AI.

Alat tersebut memang dapat membantu, tetapi hasilnya sebaiknya tidak dianggap sebagai keputusan mutlak. Teknologi pendeteksi juga memiliki keterbatasan dan harus terus menyesuaikan diri dengan perkembangan AI generatif.

Sebuah foto bahkan dapat merupakan gabungan antara konten asli dan hasil pengeditan AI. Misalnya, foto asli seseorang dapat diedit untuk mengubah latar belakang, menghapus objek atau menambahkan elemen tertentu.

Karena itu, pertanyaan yang perlu dijawab bukan hanya apakah sebuah foto “AI atau bukan”, tetapi juga apakah foto tersebut telah mengalami perubahan dan sejauh mana perubahan tersebut dilakukan.

Waspadai video tokoh publik

Video yang menampilkan tokoh publik perlu diperiksa secara lebih hati-hati, terutama jika berisi pernyataan kontroversial, promosi investasi, permintaan uang atau ajakan tertentu.

Teknologi deepfake dapat membuat wajah dan suara seseorang terlihat seolah-olah benar-benar mengucapkan sesuatu yang sebenarnya tidak pernah dikatakan.

Jika menemukan video semacam itu, cari pernyataan dari akun resmi orang yang bersangkutan atau sumber terpercaya lainnya sebelum mempercayainya.

Baca juga: Nepal minta Meta dan TikTok hapus konten AI terkait banjir bandang

Foto asli belum tentu informasinya benar

Hal lain yang sering dilupakan adalah keaslian foto tidak selalu berarti keterangan yang menyertainya benar.

Sebuah foto dapat benar-benar diambil menggunakan kamera, tetapi digunakan untuk menggambarkan kejadian yang berbeda.

Misalnya, foto bencana yang terjadi beberapa tahun lalu dapat kembali beredar dan disebut sebagai kejadian yang baru berlangsung. Dalam kasus seperti ini, persoalannya bukan foto palsu, melainkan konteks yang menyesatkan.

Karena itu, memeriksa tanggal, lokasi dan peristiwa yang berkaitan dengan sebuah foto sama pentingnya dengan memeriksa keaslian visualnya.

Jangan langsung membagikan konten mencurigakan

Ketika menemukan foto atau video yang membuat penasaran, sebaiknya jangan langsung membagikannya.

Berhenti sejenak dan lakukan pemeriksaan sederhana. Cari sumber awal, bandingkan dengan pemberitaan lain, periksa konteks dan gunakan alat verifikasi jika tersedia.

Langkah tersebut semakin penting jika konten berpotensi menimbulkan kepanikan, merusak reputasi seseorang atau digunakan untuk penipuan.

Pada akhirnya, membedakan foto dan video AI dari konten asli tidak cukup hanya dengan melihat tampilannya. Pemeriksaan sumber, konteks, riwayat konten, metadata, watermark dan teknologi verifikasi dapat digunakan secara bersamaan.

Di tengah perkembangan AI yang semakin cepat, masyarakat perlu memiliki kebiasaan untuk memeriksa informasi sebelum percaya dan membagikannya. Konten yang terlihat nyata belum tentu menggambarkan kejadian yang sebenarnya, demikian dirangkum dari sejumlah sumber.

Baca juga: Apple negosiasi pembayaran konten berita yang dipakai Siri AI

Baca juga: Fitur AI baru di seri HP lipat Samsung ini permudah buat konten video

Pewarta: M. Hilal Eka Saputra Harahap
Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |