Jakarta (ANTARA) - PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BTN mengungkapkan, BTN Housingpreneur mendorong inovasi demi pengembangan ekosistem perumahan di masa depan.
Direktur Risk Management BTN Setiyo Wibowo mengatakan, BTN Housingpreneur memberikan ruang bagi para startup dan wirausaha properti, arsitek serta mahasiswa untuk menampilkan inovasi dan teknologi yang mereka ciptakan demi pengembangan ekosistem perumahan di masa depan.
“Kami mengumpulkan startup-startup di bidang perumahan, mulai dari property technology (proptech), produsen material bangunan yang mengandung unsur keberlanjutan (sustainability), desain rumah rendah emisi atau rumah hijau, dan lain-lain,” ujar Setiyo dalam keterangannya di Jakarta, Jumat.
Para inovator dari berbagai daerah tersebut menjalani proses yang cukup panjang selama BTN Housingpreneur 2025 berjalan.
Baca juga: BTN dorong kredit program perumahan untuk segmen pekerja informal
Lebih dari 8.000 pendaftar mengikuti seleksi yang ketat hingga akhirnya muncul 58 inovator terpilih untuk melakukan showcase inovasi mereka pada gelaran BTN Expo 2026.
“Kami menggandeng talenta-talenta muda untuk membangun teknologi dan kewirausahaan (entrepreneurship) di bidang perumahan, karena ekosistem perumahan selalu membutuhkan ide-ide baru. Sebagai bank yang punya ekosistem perumahan paling besar, kami mencari mitra-mitra baru yang dapat diajak berkolaborasi untuk bisa di-scale up,” kata Setiyo.
Berbeda dari pendekatan konvensional, mayoritas inovasi yang lolos ke tahap akhir BTN Housingpreneur tidak lagi memandang rumah semata sebagai bangunan fisik, melainkan juga ingin menjawab persoalan struktural sektor properti Indonesia, mulai dari keterbatasan daya beli, tingginya risiko bencana di kawasan permukiman, hingga ketergantungan pada material bangunan konvensional.
Baca juga: BTN berharap pertumbuhan rumah subsidi lebih dari 10 persen pada 2026
Lebih dari itu, solusi yang ditawarkan dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan secara komersial dan berkelanjutan.
Sejumlah peserta menawarkan material bangunan alternatif dari berbagai jenis sampah selain plastik, cat tembok dari sekam padi, hingga limbah kopi untuk menekan biaya konstruksi dan dampak lingkungan.
Di sisi lain, terdapat juga peserta menawarkan teknologi AI untuk memetakan risiko banjir dan kondisi lahan sejak tahap awal, sehingga desain hunian dapat disesuaikan dengan karakter wilayah dan risiko iklim.
Selain aspek konstruksi dan mitigasi risiko, sejumlah inovator juga menawarkan terobosan pada sisi akses kepemilikan.
Baca juga: BTN proses minta izin Danantara untuk akuisisi perusahaan asuransi
Salah satunya aplikasi untuk skema rent-to-own dan hunian bertahap yang memungkinkan masyarakat, khususnya generasi muda dan masyarakat berpenghasilan terbatas, membangun kepemilikan rumah secara gradual dengan sistem sewa bulanan hingga nantinya memiliki cukup dana untuk membayar uang muka (down payment/DP) KPR.
Pendekatan ini menjawab persoalan klasik keterjangkauan hunian tanpa mengorbankan kualitas dan keberlanjutan bangunan.
Pewarta: Suharsana Aji Sasra J C
Editor: Abdul Hakim Muhiddin
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































