Mataram (ANTARA) - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menerbitkan peringatan dini potensi gelombang laut setinggi empat hingga enam meter di perairan bagian selatan Selat Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Ketua Kelompok Kerja Observasi, Data, dan Informasi Stasiun Meteorologi Zainuddin Abdul Madjid (ZAM) Ari Wibianto mengatakan gelombang tinggi tersebut diperkirakan berlangsung pada 15 September 2026 sampai beberapa hari ke depan.
"Kondisi gelombang tidak konstan sepanjang hari dan mengikuti pola pergerakan angin," ujarnya di Mataram, Senin.
Ari menjelaskan gelombang tinggi tersebut berkaitan dengan potensi peningkatan kecepatan angin di wilayah perairan, yang dipengaruhi oleh adanya gradien tekanan udara yang cukup signifikan antara pusat tekanan udara tinggi di sekitar Australia dan tekanan udara yang relatif lebih rendah di wilayah Asia.
Baca juga: BMKG: Waspada gelombang tinggi di Wakatobi & Baubau 13-16 September
Menurut dia, gradien tekanan dapat memicu penguatan angin di wilayah Indonesia bagian selatan. Angin yang bertiup cukup kuat dan persisten di atas permukaan laut selanjutnya dapat meningkatkan pertumbuhan gelombang.
"Potensi gelombang tinggi ini diprakirakan masih dapat terjadi dalam dua hingga tiga hari ke depan, kemudian secara bertahap berangsur menurun," kata Ari.
Lebih lanjut dia mengimbau nelayan dan pengguna jasa pelayaran untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi gelombang tinggi yang muncul di perairan Nusa Tenggara Barat.
Kondisi angin, gelombang, serta cuaca dan kemudian menyesuaikan rute dan waktu pelayaran dengan kondisi perairan harus selalu menjadi perhatian nelayan dan pengguna jasa pelayaran.
"Selalu pantau informasi cuaca maritim dan peringatan dini BMKG ZAM sebelum dan selama melakukan aktivitas di sekitar laut," pungkas Ari.
Baca juga: Waspada hujan deras di Cianjur dalam dua hari ke depan
Baca juga: BMKG: Aktivitas Anak Krakatau tak picu anomali gelombang Selat Sunda
Pewarta: Sugiharto Purnama
Editor: Bernadus Tokan
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































