Belajar memahami satu sama lain melalui film "Senin Harga Naik"

1 week ago 5
Adegan bertengkar di atap rumah itu menjadi momen paling jujur bagi mereka. Para pemain mengaku berakting secara spontan tanpa melalui sesi latihan

Jakarta (ANTARA) - Menjadi orang tua adalah perjalanan belajar yang tidak ada akhirnya hingga kadang mereka merasa kurang, bingung, dan juga sangat lelah.

Orang tua mungkin terlihat sulit mengerti kemauan kamu, yaitu: anak-anaknya, karena mereka terlalu ingin memberikan yang terbaik untuk hidupmu. Kapan terakhir kali kamu duduk tenang dan mendengarkan cerita mereka?

Paragraf tersebut sebagian merangkum esensi film "Senin Harga Naik" yang diarahkan oleh sutradara Dinna Jasanti, yang dijadwalkan tayang di bioskop mulai 18 Maret 2026.

Dinna (sebelumnya menyutradarai "Sampai Titik Terakhirmu", 2025) memotret drama kehancuran komunikasi antara seorang ibu dan ketiga anaknya lewat skenario yang ditulis oleh Rino Sarjono.

Judul film persembahan Starvision Plus dan Legacy Pictures itu mengambil istilah populer dalam dunia pemasaran properti, karena latar belakang ceritanya juga menceritakan usaha perusahaan real estat untuk membeli lahan sebuah toko roti legendaris milik keluarga.

Dengan judul tersebut, tekanan mental yang diburu-buru oleh waktu hingga menghimpit para karakter anak di keluarga itu, Mutia, Amal, dan Tasya, menjadi terwakili.

Beban dan tekanan tiap anak

Film itu menyoroti dampak psikologis menjadi anak dari seorang ibu bernama Retno (Meriam Bellina) yang terlalu pede dirinya tahu segala yang terbaik untuk hidup anak-anaknya.

Sebagai anak sulung yang sudah mapan, Amal (Andri Mashadi) memilih untuk menjaga jarak emosional. Ia membangun kehidupan sendiri agar tidak lagi terjerat dalam kontrol sang ibu yang sangat kuat. Amal merasa kemandirian adalah jalan satu-satunya untuk bernapas lega.

Namun, ia tetap membawa beban batin sebagai anak tertua yang harus tahu segala apa yang terjadi di rumah ibunya tanpa harus sering bertatap muka, sehingga pesan digital selalu menjadi andalan.

Anak tengah, Mutia (Nadya Arina), hidup dalam tekanan ingin sukses di pekerjaannya di perusahaan properti untuk membuktikan dirinya mampu mandiri seperti janjinya sewaktu meninggalkan rumah sambil emosi.

Mutia merasa terjepit karena perusahaan tempatnya bekerja memiliki kepentingan terhadap aset milik ibunya. Ketidakmampuan Mutia untuk jujur menunjukkan betapa dinginnya komunikasi dirinya dengan sang ibu.

Ia terjebak dalam dilema antara pembuktian diri secara profesional dan loyalitas terhadap keluarga yang membesarkannya.

Sementara itu, Tasya (Nayla Purnama) menjadi anak yang paling menderita sebagai si bungsu. Ia tidak memiliki ruang untuk menentukan masa depan sendiri karena semua pilihan hidupnya didikte oleh sang ibu.

Tasya memendam rasa sesak yang luar biasa setiap hari, namun tidak bisa lari ke mana-mana karena rasa sayangnya begitu besar terhadap sang ibu dan nalurinya selalu ingin menjaga sang ibu di masa tuanya.

Sebagai anak terakhir, ia menanggung beban ekspektasi yang belum selesai dari saudara-saudaranya. Ia menjadi saksi bisu setiap konflik yang terjadi di dalam rumah.

Penanda pulang

Editor: Sapto Heru Purnomojoyo
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |