Jakarta (ANTARA) - Bank Amar Indonesia (Amar Bank) bersama JAFF Market menggelar diskusi guna membedah tantangan yang membuat para pekerja film di Indonesia masih dikategorikan belum bankable atau belum memenuhi syarat mendapatkan pembiayaan perbankan.
Profil kelayakan perbankan (bankability) merupakan tantangan besar untuk dipenuhi oleh para pekerja kreatif di bidang perfilman sewaktu mengakses pembiayaan modal.
“Kami mengapresiasi komitmen Amar Bank untuk memahami karakter kerja industri film secara lebih utuh. Bagi JAFF Market, kolaborasi ini penting karena industri film tidak hanya berbicara tentang karya, tetapi juga tentang bagaimana orang dan usaha di baliknya dapat tumbuh lebih kuat dan berkelanjutan. Karya yang kuat juga membutuhkan fondasi finansial yang sehat,” kata Direktur Bisnis JAFF Market Sekarini Seruni dalam siaran pers JAFF Market di Jakarta, Jumat.
Diskusi tersebut mengikutsertakan Indonesian Film Director Club (IFDC), Penulis Indonesia untuk Layar Lebar (PILAR), Indonesian Film Editor (INAFEd), Indonesian Cinematographers Society (ICS), dan Asosiasi Casting Indonesia (ACI).
Baca juga: Tantangan memperkuat ekosistem film nasional harus dihadapi bersama
Gambaran tantangan yang diperoleh dalam diskusi kelompok terpumpun itu antara lain pola praktik kerja masing-masing profesi yang berbeda-beda untuk setiap periode produksi, kebutuhan produksi dan pribadi masih bercampur, nilai karya belum diakui sebagai aset ekonomi, dan pencatatan keuangan belum diarsip dengan baik.
Dalam tantangan pola praktik kerja dipaparkan antara lain: editor dan penulis skenario umumnya menerima pembayaran dalam beberapa termin sepanjang pengerjaan proyek yang berlangsung berbulan-bulan. Pola tersebut membuat arus pendapatan tidak selalu tercatat secara rutin setiap bulan, sehingga penilaian kemampuan finansial perlu melihat rekam pemasukan dalam periode yang lebih panjang.
Dalam kebutuhan produksi: casting director dan sinematografer kerap menerima dana proyek untuk kebutuhan produksi melalui satu rekening sebelum mendistribusikan itu untuk kebutuhan kru ataupun pemeran film. Kondisi itu membuat nilai transaksi yang tercatat dapat lebih besar daripada pendapatan pribadi, sehingga pencatatan penghasilan dan kewajiban pajak menjadi lebih kompleks.
Dalam tantangan nilai karya: penulis dan sutradara memang dapat memiliki karya atau IP dengan nilai komersial di luar pendapatan proyek. Namun, nilai tersebut belum selalu diperhitungkan sebagai aset ekonomi yang dapat memperkuat profil keuangan maupun akses pendanaan.
Dalam tantangan pencatatan keuangan: banyak pekerja film masih bekerja sebagai individu, dengan pencatatan transaksi, kontrak, serta tata kelola finansial dan legal yang belum seragam. Padahal, rekam keuangan dan tata kelola usaha yang lebih tertata dapat menjadi dasar bagi perbankan untuk menilai kelayakan serta kebutuhan pembiayaan produktif.
Baca juga: Pendekatan kolaboratif jadi langkah perkuat ekosistem perfilman
Menanggapi tantangan tersebut, Amar Bank mengusulkan pendekatan "nurturing" yang adaptif terhadap penilaian profil kelayakan perbankan terhadap pekerja kreatif industri perfilman.
Senior Vice President MSME Amar Bank, Josua Sloane menyatakan bahwa siklus industri film, mulai dari pengembangan hingga monetisasi, sangat berbeda dari sektor usaha konvensional, sehingga arus kasnya tidak bisa disamakan.
Melalui teknologi perbankan, bank digital tersebut dapat memfasilitasi pelaku industri untuk membangun rekam jejak transaksi dan menata keuangan mereka.
Diskusi lintas industri ini merespons potensi besar ekonomi kreatif Indonesia yang berperan penting dalam penyerapan tenaga kerja nasional.
Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2025, sektor ekonomi kreatif menyerap 27,4 juta pekerja, melampaui target 25,55 juta orang.
Sementara Bank Indonesia (BI) mengidentifikasi belanja produksi film juga menghasilkan efek pengganda, karena aktivitas belanja produksi tersebut turut menggerakkan berbagai sektor usaha yang lain mulai dari perhotelan, katering, transportasi, hingga pelaku UMKM lokal.
Pertumbuhan sektor perfilman nasional tidak hanya membuka peluang bagi sineas dan aktor, tetapi juga penulis, editor, penata kamera, kru produksi, vendor, serta berbagai sektor pendukung lainnya.
Baca juga: Pemerintah sebut film bagian dari perjalanan peradaban bangsa
Baca juga: Menbud: Teknologi XR mampu perkuat ekosistem perfilman nasional
Baca juga: Kementerian Kebudayaan bersinergi untuk perkuat ekosistem perfilman
Pewarta: Abdu Faisal
Editor: Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































