Malang, Jawa Timur (ANTARA) - Dosen Program Studi Hubungan Internasional Universitas Brawijaya P.M Erza Killian, Ph.D mengatakan Indonesia perlu berhati-hati mengambil momentum pada gelaran World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss seiring terjadinya dinamika politik global.
"Mungkin WEF tahun ini bukan ekonomi saja, itu sudah jadi forum geopolitik dan keamanan. Jadi kita harus berhati-hati kalau mau mengambil momentum," kata Erza di Kota Malang, Jawa Timur, Rabu,.
Dia mengatakan Indonesia akan mendapatkan keuntungan dari gelaran WEF ketika mempertegas diri sebagai negara middle power atau kekuatan tengah dengan mengambil posisi tidak berpihak dan masuk ke dalam konflik serta fragmentasi politik global.
Terlebih politik luar negeri Indonesia menganut prinsip bebas aktif, kata Erza, sehingga itu perlu dioptimalkan, sebab akan menjadikan negara ini dianggap aman dan terlindungi dari konflik.
Oleh karena itu, Erza menyampaikan pada forum itu Presiden Prabowo Subianto dan delegasi Indonesia bisa benar-benar jeli dan fokus meningkatkan daya tawar peluang kerja sama investasi yang sifatnya netral atau jauh dari konflik.
Baca juga: Seskab: Presiden Prabowo dijadwalkan berpidato di WEF Davos 22 Januari
Lebih lanjut, dia menyebut beberapa sektor yang dioptimalkan sebagai daya tawar ke negara lain, seperti soal transisi energi, ekosistem baterai kendaraan listrik, dan investasi hijau.
"Mengingat saat ini sektor perekonomian juga sedang menjadi instrumen keamanan," ujarnya.
Dia menyarankan agar tidak menarik investasi yang tujuannya ke arah industri pertahanan dari suatu negara. Hal tersebut untuk menghindari persepsi keberpihakan dari para negara lain peserta WEF.
"Kalau sekarang ada istilah friend-shoring, jadi mungkin beberapa negara menggeser investasinya ke negara yang secara politik dianggap dekat. Jadi kebijakan investasi bukan didasarkan, misalnya hanya pada peluang ekonomi maupun kebijakan soal tenaga kerja tapi juga kedekatan politik," ujar dia.
Menurut dia, secara keseluruhan gelaran WEF bisa menjadi panggung prestisius bagi Indonesia asal bisa mendorong topik pembahasan ke konteks lain, di luar isu geopolitik.
"Arah highlight media pasti ke eskalasi geopolitiknya (Donald) Trump. Kalau pun Indonesia mau naik panggung, maka harus bisa mengambil sesuatu yang tidak di pegang oleh negara lain," tuturnya.
Baca juga: Indonesia siap tarik investasi global di World Economic Forum Swiss
Baca juga: Danantara promosikan tiga proyek unggulan di World Economic Forum 2026
Baca juga: Ekonom Indef nilai kehadiran Danantara di WEF angin segar ekonomi RI
Pewarta: Ananto Pradana
Editor: Laode Masrafi
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































