Kota Bandung (ANTARA) - Sebanyak 500 musisi memeriahkan Bandung Kota Angklung Festival 2026 yang menjadi ruang kolaborasi budaya sebagai Kota Angklung sekaligus melestarikan warisan budaya dunia yang telah diakui UNESCO di Balai Kota Bandung, Jawa Barat.
Sekretaris Daerah Kota Bandung Iskandar Zulkarnain mengatakan angklung bukan sekadar alat musik tradisional, melainkan simbol kebersamaan yang mengandung nilai gotong royong, toleransi, dan harmoni.
“Hari ini kita menunjukkan kepada Indonesia bahkan dunia bahwa Bandung bukan hanya kota kreatif, kota pendidikan, atau kota wisata. Bandung adalah kota yang menjaga akar budayanya dengan penuh cinta dan tanggung jawab,” kata Iskandar di Bandung, Sabtu.
Menurut dia, filosofi angklung mengajarkan bahwa perbedaan dapat menjadi kekuatan ketika dipadukan dalam kebersamaan.
Baca juga: DKI perkuat citra Kota Tua jadi pusat wisata lewat Hari Angklung
Oleh karena itu, kata dia, pelestarian angklung tidak cukup hanya dengan menjaganya tetap ada, tetapi juga memastikan warisan budaya tersebut terus hidup, dimainkan, dipelajari, dicintai, dan relevan bagi generasi muda.
“Angklung mengajarkan gotong royong, kebersamaan, dan toleransi. Perbedaan bukan untuk dipertentangkan, melainkan dipersatukan menjadi sebuah kekuatan,” ujarnya.
Sementara Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung Adi Junjunan Mustafa menjelaskan Bandung Kota Angklung Festival 2026 ini memasuki tahun kelima sejak dideklarasikan.
Menurut dia, festival tahun ini didahului rangkaian Road to Bandung Kota Angklung Festival yang berlangsung sepanjang Mei 2026 di lima pusat perbelanjaan, yakni Bandung Indah Plaza, Cihampelas Walk, The Botanica Mall Bandung, Summarecon Mall Bandung, dan Festival Citylink.
Baca juga: Alunan angklung WNI sambut kedatangan Presiden Prabowo di Islamabad
“Sebanyak 57 grup angklung berpartisipasi dalam rangkaian kegiatan tersebut dengan jumlah pengunjung mencapai sekitar 1.000 orang,” katanya.
Adi menuturkan Bandung Kota Angklung Festival bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan gerakan bersama untuk menjaga warisan budaya sekaligus memperkuat identitas Kota Bandung.
“Sebagai warisan budaya dunia yang telah diakui UNESCO, angklung bukan hanya alat musik tradisional, tetapi juga representasi nilai gotong royong, toleransi, dan kebersamaan. Semangat pelestarian angklung sebagai identitas Kota Bandung harus terus kita jaga dan kembangkan bersama,” katanya.
Ia berharap posisi Bandung sebagai Kota Angklung semakin kuat melalui berbagai bentuk pengakuan dan kolaborasi yang melibatkan pemerintah, komunitas, dunia pendidikan, hingga masyarakat luas.
Baca juga: Fadli: Angklung bukti keberagaman budaya Indonesia
Pewarta: Rubby Jovan Primananda
Editor: Riza Mulyadi
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































