Jakarta (ANTARA) - Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi Stella Christie mengatakan kolaborasi Universitas Indonesia dan Tsinghua University dalam pengembangan vaksin dengue berbasis mRNA merupakan bukti komitmen pemerintah untuk memajukan bangsa melalui sains dan teknologi.
Stella mengatakan di Jakarta, Rabu, bahwa di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto institusinya menjadi kementerian tersendiri yang fokus pada sains dan teknologi, merespons tren global di mana negara-negara yang kuat memacu riset dan pengembangannya melalui perguruan tinggi. Selain itu, pendanaan riset pada 2025 ditambah menjadi dua kali lipat.
"Kami punya banyak harapan, dan kami mendukung keputusan Presiden Prabowo untuk membuat Kementerian Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi, agar lanskap sains dan teknologi di Indonesia benar-benar berubah. Usaha seperti inilah yang menunjukkan hasil dalam waktu pendek, satu setengah tahun," katanya.
Beberapa waktu lalu, katanya, presiden menghadiri dua konferensi Indonesia bertema sains dan teknologi, yang menunjukkan komitmennya untuk memajukan bangsa lewat sains dan teknologi.
Baca juga: BPOM: Vaksin dengue berbasis mRNA RI-China tingkatkan kesehatan global
Selain itu, katanya, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin juga responsif dan terbuka untuk belajar dari ilmuwan mengenai data guna menguatkan sistem kesehatan nasional.
"Sekarang saya di posisi Wakil Menteri sendiri, saya mengapresiasi Menteri Budi atas perhatiannya untuk data dan sains. Jadi yang kita lihat hari ini adalah benar-benar sebuah pencapaian," katanya.
Stella menjelaskan bahwa Tsinghua University sangat selektif dalam memilih mitra untuk berkolaborasi. Sehingga ketika Tsinghua University, universitas terbaik di Asia, setuju untuk bekerja sama dengan UI, universitas terbaik di Indonesia, hal itu menjadi sesuatu yang signifikan.
Sejak 2023, katanya, kerja sama vaksin tersebut sudah dimulai. Meski dia ilmuwan bidang kognitif dan bukan ilmuwan vaksin, dia berupaya menjembatani kebutuhan kedua sisi, yakni Tsinghua University tempatnya mengajar dan Indonesia negaranya.
Baca juga: BRIN: pengembangan vaksin salah satu kunci kedaulatan kesehatan RI
"Ini adalah platform yang menakjubkan. Dan saya percaya bahwa ini akan benar-benar mengubah lanskap kesehatan yang didukung data, sains, dan teknologi," katanya terkait kolaborasi UI dan Tsinghua.
Dia juga mengapresiasi Etana yang mendukung kolaborasi tersebut sejak awal diinisiasi. Sebagai Wamendikti, dia menekankan pentingnya kehadiran industri untuk mendorong riset menjadi produk jadi.
Di Tsinghua University, katanya, sekitar 40-60 persen dana risetnya berasal dari industri. Dia pun mendorong agar hal seperti itu bisa dicapai Indonesia melalui kolaborasi secara sistematis dengan industri.
"Ini komitmen dari Presiden, dan akan lebih banyak, banyak hal seperti ini yang akan datang," katanya.
Baca juga: Menkes targetkan RI bisa buat 15 antigen secara mandiri sebelum 2029
Pewarta: Mecca Yumna Ning Prisie
Editor: Riza Mulyadi
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































